Dunia maya sempat dihebohkan oleh aksi nyeleneh Hendrik Irawan, pemilik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Batujajar, yang memamerkan pendapatan fantastis senilai Rp6 juta per hari dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Video joget-joget yang diunggah pada 15 Maret 2026 itu telah ditonton lebih dari 1,2 juta kali sebelum akhirnya sang pemilik menutup kolom komentar akibat serangan bertubi-tubi dari netizen.
Sadar dirinya menjadi “public enemy”, Hendrik akhirnya muncul kembali pada Rabu (25/3/2026) untuk menyampaikan permohonan maaf sekaligus memberikan klarifikasi panjang lebar agar publik tidak salah paham.
Bukan Potong Jatah, Tapi ‘Apresiasi’ Presiden
Hendrik menegaskan bahwa uang Rp6 juta tersebut bukanlah hasil memangkas porsi makan anak-anak sekolah, melainkan insentif resmi dari pemerintah atas kualitas dapur yang ia bangun.
“Jadi hari ini saya menjelaskan insentif Ro6 juta yang saya dapatkan itu darimana. Jangan sampai netizen blunder. Jadi itu insentif bukan diambil dari jatah anak-anak, itu dari insentif yang bapak presiden (Prabowo Subianto) berikan,” kata Hendrik dalam unggahannya.
Investasi Jumbo Rp3,5 Miliar yang Belum Balik Modal
Di balik pamer cuan tersebut, Hendrik mengungkapkan fakta yang mengejutkan. Ia mengaku telah merogoh kocek pribadi hingga Rp3,5 miliar untuk membangun fasilitas SPPG seluas 1.000 meter persegi di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat tanpa bantuan dana pemerintah.
“Kami membangun dapur ini pakai uang sendiri. Jujur saja, sampai sekarang kami belum balik modal. Uang Rp6 juta itu pun tidak cair 30 hari penuh, tapi hanya 24 hari kerja,” tambahnya.
Menu Bintang Lima, Harga Kaki Lima
Hendrik merasa heran mengapa hanya dirinya yang menjadi sasaran kemarahan netizen, padahal menurutnya seluruh mitra SPPG mendapatkan nominal insentif yang sama. Ia pun menjamin bahwa kualitas makanan yang diproduksi dapurnya tetap terjaga dengan standar tinggi.
“Kami mengemas harga Rp8 ribu hingga Rp10 ribu menjadi menu rasa bintang lima. Saya tidak mengambil hak anak bangsa atau mengurangi kualitas menu,” ujarnya membela diri.
Meski tetap merasa tidak bersalah secara sistem, Hendrik dengan rendah hati meminta maaf atas kegaduhan yang ia ciptakan di media sosial. Ia berharap publik bisa melihat dedikasinya dalam mendukung program pemerintah daripada sekadar melihat aksi jogetnya yang kontroversial.