Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, baru saja melontarkan ancaman yang menggetarkan kawasan: Teheran siap meratakan infrastruktur vital negara tetangga mana pun yang berani membantu pasukan asing menginjakkan kaki di pulau mereka.
Melalui pesan singkat namun tegas di akun X miliknya dalam bahasa Persia dan Arab, Ghalibaf mengungkapkan bahwa intelijen Iran telah mencium rencana musuh untuk menduduki salah satu pulau strategis mereka. Tanpa menyebut nama, ia memberikan peringatan keras kepada “negara regional” yang diduga menjadi kaki tangan operasi tersebut.
“Pasukan kami memantau setiap jengkal pergerakan musuh. Jika mereka melangkah, seluruh infrastruktur vital negara regional tersebut akan menjadi target serangan tanpa henti,” tegas Ghalibaf.
Para analis meyakini “negara regional” yang dimaksud adalah Uni Emirat Arab (UEA), yang sebelumnya dituding Teheran menjadi basis peluncuran serangan AS ke wilayah mereka.
Pulau Kharg: Jantung Ekonomi dalam Bidikan
Meski nama pulau tidak disebutkan secara gamblang, sorotan tertuju pada Pulau Kharg—jalur nadi yang mengelola 90 persen ekspor minyak mentah Iran. Presiden AS Donald Trump sebelumnya secara terbuka menyebut Kharg sebagai “pulau minyak kecil tak terlindungi” yang sangat menggiurkan untuk dikuasai.
Kini, Pulau Kharg telah berubah menjadi benteng pertahanan yang mencekam:
-
Pagar Maut: Iran dilaporkan telah memasang ranjau anti-personel dan anti-armor di sepanjang garis pantai.
-
Payung Udara: Sistem rudal permukaan-ke-udara portabel tambahan telah dikerahkan untuk menghalau serangan udara maupun pendaratan darat.
Gelombang Pasukan AS Mengepung Teluk
Peringatan Iran ini muncul di tengah mobilisasi militer besar-besaran Amerika Serikat ke kawasan tersebut. Pentagon dilaporkan tengah mempercepat pengiriman:
-
3.000 Pasukan Payung dari Divisi Lintas Udara ke-82.
-
4.700 Personel Marinir dari Unit Ekspedisi Marinir ke-31 dan ke-11 yang diangkut menggunakan kapal induk USS Tripoli dan USS Boxer.
Secara total, sekitar 8.000 pasukan darat AS akan segera berada di posisi siap tempur di gerbang masuk Iran.
Menanggapi pengepungan ini, militer Iran tidak tinggal diam. Seorang pejabat tinggi Iran melalui kantor berita Tasnim menyatakan bahwa jika operasi darat benar-benar diluncurkan, Iran tidak akan ragu membuka front baru, termasuk melancarkan serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah untuk melumpuhkan jalur perdagangan dunia.