JAKARTA – Langkah Alexandra Eala di Canadian Open 2026 terhenti pada babak 16 besar setelah petenis Filipina itu dikalahkan Belinda Bencic dengan skor 4-6, 0-6, Senin (10/8/2026) pagi WIB.
Kekalahan tersebut mengakhiri rentetan tujuh kemenangan beruntun Eala yang sebelumnya dibangun melalui penampilannya di Washington dan Toronto.
Eala tampil di Toronto dengan modal luar biasa setelah lebih dulu merebut gelar WTA pertamanya di Washington Open pada pekan sebelumnya.
Dalam perjalanan menuju trofi tersebut, Eala menumbangkan sejumlah nama besar, termasuk Elina Svitolina, Naomi Osaka, Zheng Qinwen, dan juara bertahan Leylah Fernandez.
Pada partai final Washington, Eala menaklukkan Jessica Pegula 4-6, 6-4, 6-0 untuk mencatat sejarah sebagai petenis Filipina pertama yang meraih gelar tunggal level tur WTA.
Setelah itu, Eala langsung melanjutkan perjuangannya di Canadian Open dan mengalahkan Caty McNally dalam pertandingan tiga set.
Rangkaian pertandingan padat tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kondisi fisik Eala menjelang Cincinnati Open dan US Open.
Namun, mantan finalis US Open Greg Rusedski justru menilai jadwal tersebut belum menjadi alasan untuk mengkhawatirkan perkembangan Eala.
Rusedski menyoroti energi luar biasa yang diberikan publik Kanada kepada Eala sejak pertandingan pertamanya di Toronto.
“Penerimaan yang dia dapatkan di Toronto untuk pertandingan pembukanya benar-benar luar biasa,” kata Rusedski seperti dikutip Tennis World, Selasa (11/8/2026).
“Pidatonya kepada penonton sangat menggetarkan, dan semua orang yang datang benar-benar senang melihatnya, kemudian dia kembali membuktikannya dengan mengalahkan McNally,” ujarnya.
Menurut Rusedski, kondisi fisik dan ketangguhan mental Eala menjadi modal penting untuk menghadapi periode kompetisi yang sangat padat.
“Penonton akan berada di belakang Eala, dan saya merasa secara fisik dia sudah berada dalam kondisi bagus,” kata Rusedski.
“Dia kuat secara mental, sementara pikiran dan tubuh berjalan beriringan,” lanjutnya.
Rusedski juga menilai usia Eala menjadi keuntungan karena tubuh atlet muda biasanya mampu memulihkan diri lebih cepat setelah pertandingan berat.
“Ketika masih muda, tubuh pulih jauh lebih cepat dibandingkan ketika seseorang memasuki usia 30 tahun atau lebih,” katanya.
“Saya tidak mengkhawatirkan hal itu karena dia akan bermain di Toronto, kemudian Cincinnati, lalu mendapat waktu satu pekan untuk mempersiapkan diri menuju US Open,” ujar Rusedski.
“Itulah yang dilakukan semua pemain besar, jadi bagi saya tidak ada alasan untuk khawatir,” katanya.
Rusedski menilai performa Eala dalam dua pekan terakhir justru menunjukkan perkembangan yang sangat mengesankan di level tertinggi tenis putri.
Kekalahan dari Bencic memang memperlihatkan betapa beratnya jadwal yang harus dijalani Eala, tetapi hasil tersebut tidak menghapus pencapaian luar biasanya di Washington.
Setelah memenangkan gelar WTA 500, standar penilaian terhadap Eala kini berubah karena publik mulai melihatnya sebagai kandidat juara di setiap turnamen.
Perubahan status tersebut juga memperbesar sorotan terhadap Eala yang dinilai memiliki karakter dan gaya permainan untuk menjadi bintang besar WTA.
“Ini datang pada waktu yang tepat untuk WTA karena mereka memang membutuhkan sosok seperti ini,” kata Rusedski.
Rusedski menilai absennya performa terbaik sejumlah nama besar membuat kehadiran Eala semakin penting bagi daya tarik kompetisi tenis putri.
“Sabalenka belum bermain dengan baik, Rybakina juga sedikit kehilangan arah, sehingga mereka membutuhkan nama besar,” ujarnya.
Menurut Rusedski, perhatian besar terhadap Eala seharusnya membuat penyelenggara lebih berani menempatkannya dalam sesi pertandingan utama.
“Saya akan menempatkannya di setiap sesi malam karena tiket pertandingan pasti akan terjual habis,” kata Rusedski.
Antusiasme penonton di Washington dan Toronto menjadi bukti bahwa Eala telah memiliki basis penggemar internasional yang semakin besar.
Banyak penonton membawa bendera Filipina dan menciptakan atmosfer seperti pertandingan kandang setiap kali Eala tampil di lapangan.
Petenis yang Rendah Hati
Popularitas Eala juga memiliki arti khusus bagi Filipina karena prestasinya membuka babak baru dalam sejarah tenis negara tersebut.
“Mereka sebelumnya tidak pernah memiliki petenis yang mencapai apa yang sudah diraih olehnya,” ujar Rusedski.
Menurut Rusedski, pencapaian Eala bahkan mulai mendapat perhatian dari tokoh olahraga terbesar Filipina, termasuk legenda tinju Manny Pacquiao.
“Kita melihat Manny Pacquiao berbicara mengenai kemenangan Eala di Washington, betapa bangga dan terkesannya dia terhadap Eala,” katanya.
Rusedski juga memuji sikap rendah hati Eala ketika dirinya disebut sebagai bintang olahraga perempuan terbesar Filipina.
Eala memilih mengingatkan bahwa negaranya memiliki banyak atlet hebat lain, termasuk peraih medali emas Olimpiade yang telah mengharumkan nama Filipina.
“Dia mengoreksi orang yang mengajukan pertanyaan itu karena Filipina juga memiliki peraih medali emas Olimpiade dan atlet dari cabang lain yang tampil luar biasa di panggung dunia,” kata Rusedski.
“Dia rendah hati dan memiliki semua kualitas yang diinginkan dari seorang bintang besar,” ujarnya.
“Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, dia memiliki semuanya dan menjadi cahaya yang sangat terang,” lanjut Rusedski.
Kini Eala memasuki fase pemulihan setelah menjalani dua turnamen dalam waktu berdekatan dengan intensitas pertandingan tinggi.
Eala sendiri mengatakan akan menggunakan waktu singkat untuk memulihkan diri sebelum kembali bertanding di Cincinnati Open.
Kekalahan dari Bencic tidak mengubah fakta bahwa Eala telah membangun salah satu periode terbaik dalam karier mudanya.
Rentetan kemenangan di Washington dan Toronto menjadi bukti bahwa keberhasilan Eala bukan sekadar hasil dari satu turnamen yang kebetulan berjalan sempurna.
Performa tersebut sekaligus memperkuat status Eala sebagai salah satu pemain muda yang patut diperhatikan dalam persaingan tenis putri dunia.***


