JAKARTA – Dalam langkah krusial pasca-gencatan senjata, Hamas menyerahkan empat jenazah sandera Israel ke pihak Israel pada Selasa malam (14/10/2025), menandakan kemajuan rapuh di tengah ketegangan memuncak. Serah terima ini terjadi sehari setelah Presiden AS Donald Trump memamerkan rencana damai “fajar baru Timur Tengah” di hadapan parlemen Israel, namun kini diwarnai ancaman militer jika Hamas tak segera membubarkan senjata. Akankah perdamaian Gaza yang rapuh ini runtuh total?
Progres Jenazah Sandera: 8 dari 28 Sudah Diserahkan, 19 Masih Hilang
Menurut pernyataan militer Israel yang dilansir dari Reuters, empat peti mati diserahkan melalui Palang Merah di titik temu utara Jalur Gaza, lalu dievakuasi ke Israel tepat sebelum tengah malam waktu setempat (21:00 GMT). Jenazah-jenazah ini kini menjalani identifikasi forensik untuk dikonfirmasi identitas. Hamas mengonfirmasi via juru bicara Hazem Qassem di Facebook: “Pria-pria kami sedang mengawasi pelaksanaan kesepakatan penyerahan jenazah sebagai bagian dari akhir perang Gaza.”
Ini menambah total 8 jenazah dari 28 sandera tewas yang menjadi syarat akhir kesepakatan gencatan senjata. Selebihnya, setidaknya 19 diduga tewas dan satu masih tak terhitung di Gaza. Kesepakatan ini lahir dari pertukaran 20 sandera hidup Israel dengan hampir 2.000 tahanan Palestina pada Senin lalu, mengakhiri dua tahun peperangan sejak 7 Oktober 2023.
Namun, Israel balas dendam: Mulai Rabu (15/10/2025), jumlah truk bantuan kemanusiaan ke Gaza dipotong setengah dari 600 truk harian yang disepakati! Alasan? Israel tuduh Hamas melanggar kesepakatan dengan telat serahkan jenazah. Rencana buka perbatasan selatan ke Mesir untuk evakuasi korban luka juga ditunda. Akibatnya, setengah juta warga Gaza kini terancam kelaparan parah di tengah reruntuhan enclave yang hancur lebur.
Hamas Kuasai Jalanan: Eksekusi Publik 7 Kolaborator Israel, Ancaman bagi Penjarah!
Di sisi lain, Hamas bangkit ganas! Ribuan pejuangnya rebut kendali jalanan Gaza pasca-penarikan parsial pasukan Israel. Video viral Senin malam tunjukkan 7 pria diikat tangan, dipaksa berlutut, dan ditembak dari belakang di alun-alun Kota Gaza – dieksekusi atas tuduhan kolaborasi dengan Israel! Sumber Hamas konfirmasi ke Reuters: “Eksekusi ini nyata, lokasi terverifikasi.”
Warga Gaza laporkan ratusan pasukan keamanan Hamas berpatroli di rute bantuan, tegas peringatkan: Tidak ada toleransi untuk kolaborator, penjarah bersenjata, atau pengedar narkoba! Bentrokan dengan rival tewaskan puluhan orang. Trump sendiri sebelumnya restui Hamas kuasai Gaza sementara, meski PM Israel Benjamin Netanyahu bersikukuh: “Perang tak berakhir sampai Hamas serahkan senjata dan kendali Gaza!”
Trump Ngamuk: “Kami Bubarkan Hamas Cepat dan Brutal Jika Tak Patuh!”
Bayang-bayang perang kembali gelap! Di Gedung Putih Selasa, Trump ancam: “Jika mereka tak bubar senjata, kami yang bubarkan. Cepat, dan mungkin brutal!” Ini sehari setelah pidatonya di Knesset Yerusalem puji “fajar historis Timur Tengah baru”. Tapi realita pahit: Serangan drone Israel tewaskan 5 warga Palestina timur Kota Gaza, plus 1 tewas dan 1 luka dekat Khan Younis. Hamas tuduh Israel langgar gencatan senjata; Israel klaim tembak balik pelanggar garis aman.
Sejak gencatan senjata, layanan Sipil Gaza pulihkan 250 jenazah dari reruntuhan. Total korban perang: 67.000 tewas (data Kementerian Kesehatan Gaza), ribuan lagi terkubur puing. Serangan awal Hamas 7 Oktober 2023 picu serangan balasan Israel yang porak-poranda Gaza.
Nasib Perdamaian Gaza? Bantuan Terhambat, Kelaparan Mengancam Setengah Juta Jiwa
Dengan bantuan terbatas, krisis kemanusiaan Gaza makin parah. Warga butuh 600 truk harian untuk atasi kelaparan massal. Hamas serahkan jenazah – cukupkah untuk pulihkan alur bantuan penuh? Atau ancaman Trump picu perang baru? Dunia tunggu jawaban.