JAKARTA – Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa kembali ditutup menguat seiring meningkatnya optimisme pelaku pasar terhadap prospek ekonomi nasional.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini dibuka naik 20,28 poin atau 0,33 persen ke level 6.254,78 sebelum melanjutkan penguatan hingga penutupan sesi pertama.
Hingga akhir sesi siang, IHSG menguat 35,66 poin atau 0,57 persen dan berakhir di posisi 6.270,16.
Indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan juga bergerak positif dengan kenaikan 3,11 poin atau 0,50 persen ke level 627,04.
Kenaikan kedua indeks mencerminkan masih kuatnya minat investor terhadap saham-saham berkapitalisasi besar di tengah membaiknya sentimen pasar.
Optimisme tersebut didorong laporan keuangan emiten periode kuartal II atau semester I 2026 yang secara umum menunjukkan kondisi fundamental tetap sehat.
PMI Manufaktur Meningkat
Sektor perbankan, telekomunikasi, dan konsumsi menjadi kelompok emiten yang dinilai masih mencatatkan performa bisnis solid.
Pelaku pasar juga merespons positif membaiknya aktivitas manufaktur nasional pada Juli 2026.
PMI Manufaktur Indonesia meningkat menjadi 50,2 dibandingkan 46,9 pada Juni 2026.
Capaian tersebut menjadi level tertinggi sejak Februari 2026 sekaligus menandai kembalinya sektor manufaktur ke fase ekspansi.
Produksi industri kembali tumbuh setelah mengalami kontraksi selama empat bulan berturut-turut meski kenaikannya masih terbatas.
Di sisi perdagangan luar negeri, defisit neraca perdagangan Indonesia menyusut menjadi 450 juta dolar AS pada Juni 2026.
Nilai tersebut jauh lebih baik dibandingkan defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026.
Ekspor tercatat tumbuh 8,84 persen secara tahunan setelah sebelumnya mengalami kontraksi 5,73 persen.
Namun, impor meningkat lebih tinggi hingga 34,27 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Harga BBM Non-Subsidi
Sementara itu, laju inflasi nasional melambat menjadi 2,88 persen secara tahunan pada Juli 2026.
Inflasi yang lebih rendah dipengaruhi deflasi bulanan sebesar 0,14 persen akibat melimpahnya pasokan hasil panen.
Turunnya harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi faktor utama yang menekan inflasi.
Penurunan harga BBM non-subsidi pada Agustus 2026 diperkirakan semakin menjaga stabilitas inflasi dalam beberapa waktu mendatang.
Analis juga melihat ruang penguatan IHSG masih terbuka apabila sentimen domestik tetap terjaga.
“Diperkirakan IHSG masih berpotensi rebound dan menguji resistance di level 6,250-6,300,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.
Harga Minyak Dunia
Dari pasar global, perhatian investor kini tertuju pada rangkaian data ketenagakerjaan Amerika Serikat sepanjang pekan ini.
Data tersebut dinilai penting karena dirilis setelah keputusan suku bunga Federal Reserve yang memicu respons negatif pasar.
Komentar Ketua The Fed Kevin Warsh juga belum mampu meredakan kekhawatiran investor terhadap risiko inflasi di Amerika Serikat.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah turun lebih dari empat persen hingga mendekati 80 dolar AS per barel.
Pelemahan harga minyak dipicu pernyataan Presiden AS Donald Trump yang membatalkan rencana serangan terhadap Iran.
Langkah tersebut memunculkan harapan meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Turunnya harga minyak ikut mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun sekitar enam basis poin menjadi 4,688 persen.
Sementara itu, harga emas spot justru menguat sekitar 0,4 persen ke level 4.055 dolar AS per troy ons.
Penguatan emas terjadi seiring pelemahan dolar Amerika Serikat dan turunnya harga energi.
Mayoritas bursa saham Eropa mengakhiri perdagangan sebelumnya di zona hijau dengan kenaikan dipimpin indeks DAX Jerman dan CAC 40 Prancis.
Wall Street juga mencatat reli setelah indeks S&P 500, Nasdaq Composite, dan Dow Jones Industrial Average sama-sama ditutup menguat.
Di kawasan Asia, perdagangan Selasa pagi berlangsung bervariasi dengan sebagian besar indeks utama masih bergerak melemah.
Meski demikian, kondisi tersebut belum menghalangi penguatan IHSG yang tetap ditopang sentimen domestik.***



