JAKARTA – Indonesia masuk dalam daftar tujuh besar negara dengan ekonomi terbesar di dunia pada 2025 versi Dana Moneter Internasional (IMF). Peringkat tersebut ditetapkan berdasarkan metode Purchasing Power Parity (PPP), yang menempatkan Indonesia di posisi ke-7 dari 10 besar ekonomi global.
Department Head of Industry and Regional Research Bank Mandiri, Dendi Ramdani, menilai capaian ini belum mencerminkan potensi maksimal Indonesia. Ia menyebut, ada peluang besar bagi Indonesia untuk terus naik peringkat.
“Alasannya, ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh tinggi lagi, lebih dari 5 persen,” kata Dendi kepada media, Jumat (18/4/2025).
Menurutnya, ada tiga faktor utama yang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia ke level lebih tinggi. Pertama adalah bonus demografi yang dimiliki Indonesia, dengan dominasi penduduk usia produktif yang lebih besar dari usia non-produktif.
“Penduduk usia produktif ini adalah kekuatan yang sangat potensial mendorong pertumbuhan ekonomi, dikombinasikan dengan kekuatan modal dan teknologi,” paparnya.
Dendi menjelaskan, kelompok usia produktif ini merupakan kekuatan konsumtif yang signifikan, sehingga penting untuk menjaga daya beli mereka. Kenaikan permintaan barang dan jasa dari kelompok ini diyakini bisa menggerakkan sisi produksi secara menyeluruh.
Faktor kedua, menurutnya, adalah kekayaan sumber daya alam yang masih belum dimanfaatkan secara optimal. Potensi besar hadir dari sektor energi, pertambangan, perkebunan, pertanian, hingga perikanan.
“Sumber daya alam adalah kekuatan untuk menjadi sumber daya pembangunan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi,” ujar Dendi.
Sementara itu, faktor ketiga terletak pada kualitas institusi dan tata kelola pemerintahan (governance) yang dinilai masih memiliki ruang besar untuk diperbaiki.
“Yang selanjutnya bisa berdampak pada penciptaan iklim investasi dan bisnis yang kondusif untuk mendorong aktivitas investasi dan bisnis,” tuturnya.
Dendi menambahkan, bila perbaikan tata kelola dan institusi dapat dilakukan, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa melaju lebih tinggi. Ia menyebut target ambisius Presiden RI Prabowo Subianto untuk mencapai pertumbuhan hingga 8 persen bukan hal yang mustahil.
“Dalam situasi kualitas institusi dan governance yang belum baik saja Indonesia bisa tumbuh 5 persenan,” kata Dendi.
Ia menekankan pentingnya periode pemerintahan Prabowo dan 15–20 tahun mendatang sebagai fase krusial bagi Indonesia untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan naik kelas menjadi negara maju.
“Dalam periode 15–20 tahun ke depan, Indonesia perlu mempercepat peningkatan pertumbuhan ekonomi, percepatan peningkatan kualitas SDM, kualitas adopsi dan pengembangan teknologi, dan peningkatan kualitas institusi,” tuturnya.
Ia mengingatkan bahwa waktu Indonesia terbatas, karena setelah dua dekade ke depan, populasi usia produktif saat ini akan mulai menua. Kondisi tersebut berisiko membuat Indonesia terjebak dalam middle income trap jika tidak dikelola dengan strategi jangka panjang.