JAKARTA – Iran secara terbuka menepis ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan menegaskan kesiapan penuh menghadapi kemungkinan serangan militer dari Washington di tengah eskalasi ketegangan terbaru.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi yang menyebut kekuatan bersenjata negaranya siap merespons agresi di darat, laut, maupun udara secara cepat dan kuat.
“Kami memiliki rencana pertempuran untuk semua skenario jika terjadi perang dengan Amerika Serikat,” demikian unggahan militer Iran di akun Instagram, Kamis (29/1/2026).
Sikap Iran muncul setelah Donald Trump kembali melontarkan ancaman aksi militer dan meningkatkan tekanan politik terhadap Teheran.
Melalui platform Truth Social, Trump mendesak Iran untuk segera bernegosiasi atau menghadapi pengerahan armada Amerika Serikat yang disebut siap bertindak cepat dan keras.
Presiden AS itu juga menuntut kesepakatan nuklir tanpa senjata nuklir serta memperingatkan bahwa waktu diplomasi hampir habis.
Trump bahkan mengisyaratkan bahwa serangan berikutnya akan jauh lebih buruk dengan merujuk pada pemboman fasilitas nuklir Iran sebelumnya.
Menanggapi hal tersebut, Iran menegaskan telah mengambil pelajaran penting dari serangan Israel dan Amerika Serikat pada tahun lalu.
Abbas Araghchi menilai pengalaman Perang 12 Hari justru memperkuat kesiapan dan daya tahan militer Iran dalam menghadapi ancaman baru.
Ketegangan kian memanas setelah Amerika Serikat mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln ke kawasan Timur Tengah.
Sejumlah pengamat menilai langkah Washington tersebut sebagai unjuk kekuatan untuk menekan Iran agar kembali ke meja perundingan.
Amerika Serikat disebut berupaya menghentikan program nuklir dan pengembangan rudal Iran yang dianggap mengganggu keseimbangan kekuatan regional.
Iran kembali menegaskan bahwa program nuklirnya murni untuk kepentingan sipil dan merupakan hak sah negaranya termasuk dalam pengayaan uranium.
Namun, keberadaan uranium Iran dengan tingkat pengayaan tinggi masih belum diketahui sejak serangan pada Juni lalu sehingga memicu kekhawatiran internasional.
Di dalam negeri, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengecam ancaman Amerika Serikat dan menyebutnya hanya akan memperparah ketidakstabilan kawasan.
Iran menegaskan tidak akan bernegosiasi selama masih berada di bawah bayang-bayang ancaman serangan militer.
Meski demikian, Teheran menyatakan tetap membuka peluang kesepakatan nuklir yang adil, setara, dan bebas dari tekanan militer.
Upaya diplomatik terus dilakukan oleh para mediator internasional guna meredakan krisis yang berpotensi meluas.
Turki menyatakan bahwa Iran siap kembali ke perundingan nuklir apabila situasi dan kondisi memungkinkan.
Sementara itu, meningkatnya ketegangan regional tercermin dari digelarnya latihan militer di sekitar Selat Hormuz.
Sejumlah negara di kawasan juga dilaporkan menolak wilayah udaranya digunakan untuk kepentingan serangan Amerika Serikat terhadap Iran.***