JAKARTA – Ketegangan kembali memanas di Jalur Gaza setelah serangan militer Israel pada Kamis (30/7/2026) menelan korban jiwa. Insiden ini terjadi di tengah masa gencatan senjata yang seharusnya menjadi bagian dari implementasi rencana perdamaian regional.
Menurut laporan Al Jazeera yang mengutip data Kementerian Kesehatan Gaza, Jumat (31/7/2026), sedikitnya empat warga Palestina tewas, termasuk dua anak-anak. Puluhan lainnya mengalami luka-luka akibat gempuran yang menyasar kawasan pemukiman padat.
Dalam 24 jam terakhir, petugas medis mengevakuasi enam jasad dan 34 korban luka ke rumah sakit terdekat. Angka tersebut mencakup empat kematian baru, satu korban yang meninggal akibat luka parah dari serangan sebelumnya, serta satu jasad yang ditemukan di bawah reruntuhan.
Situasi di wilayah selatan Gaza dilaporkan semakin genting. Sebuah kamp pengungsi menjadi sasaran tembakan pasukan Israel, membuat banyak penghuni kehilangan tempat tinggal sementara.
Serangan terbaru ini menjadi ujian serius bagi kesepakatan damai yang dirintis pada 9 Oktober 2025. Saat itu, Israel dan Hamas menyepakati fase pertama rencana perdamaian yang dimediasi Mesir, Qatar, Amerika Serikat, dan Turki. Gencatan senjata resmi berlaku sehari setelah kesepakatan dicapai.
Namun, laporan lapangan menunjukkan pasukan Israel masih menguasai lebih dari 50 persen wilayah Gaza, meski secara formal diwajibkan mundur ke posisi yang disebut “Garis Kuning”. Kondisi ini terus memicu gesekan bersenjata.
Hingga berita ini diturunkan, otoritas kesehatan Gaza tetap bersiaga menghadapi kemungkinan bertambahnya korban dari wilayah yang sulit dijangkau.



