JAKARTA – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump memperingatkan Iran mengenai konsekuensi serius jika gagal mencapai kesepakatan dengan Washington, menjelang putaran terbaru perundingan nuklir di Jenawa, Swiss, Selasa (18/2/2026)
Diskusi yang dimediasi Oman ini bertujuan meredakan ketegangan dan mencegah kemungkinan aksi militer AS. Teheran menyatakan optimisme hati-hati atas sikap Washington yang dinilai “lebih realistis” terkait program nuklirnya.
“Saya rasa mereka tidak ingin menanggung konsekuensi jika tidak mencapai kesepakatan,” kata Trump kepada wartawan di atas pesawat Air Force One, dilansir dari Hurriyet Daily News. Ia sebelumnya berulang kali mengancam intervensi militer terhadap Iran, baik terkait penindakan demonstran maupun program nuklir.
Diplomasi sempat terhenti setelah Israel melancarkan serangan mendadak ke Iran pada Juni 2025, memicu perang 12 hari yang juga melibatkan serangan udara AS terhadap fasilitas nuklir.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyebut posisi AS kini lebih realistis. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pun menegaskan keseriusan Teheran menggunakan diplomasi “berorientasi hasil” untuk melindungi kepentingan rakyat Iran. Ia bertemu dengan Menlu Oman Badr Albusaidi dan Kepala Badan Energi Atom Internasional Rafael Grossi di Jenewa untuk membahas isu teknis.
Meski Washington ingin memperluas agenda mencakup rudal balistik dan dukungan Iran terhadap kelompok bersenjata, Teheran menegaskan hanya akan bernegosiasi soal nuklir.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran menggelar latihan militer di Selat Hormuz sebagai persiapan menghadapi “potensi ancaman keamanan dan militer.” Jalur strategis minyak dan gas itu berulang kali diancam akan diblokir oleh Iran jika tekanan terus meningkat.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan harapan adanya kesepakatan. “Presiden selalu lebih menyukai hasil damai dan hasil negosiasi daripada hal-hal materi,” ujarnya.