JAKARTA – Ketegangan diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat. Media Iran melaporkan Teheran menuduh Washington mengajukan “tuntutan yang berlebihan,” sementara laporan CBS dan Axios menyebut AS tengah mempertimbangkan opsi serangan baru, meski proposal perdamaian masih dibahas.
Presiden AS, Donald Trump menegaskan dirinya tetap berada di Washington karena “keadaan yang berkaitan dengan pemerintahan” dan “kecintaannya pada Amerika Serikat.” Ia menyebut negosiasi yang berlangsung berada di “garis batas” antara kesepakatan dan kemungkinan serangan kembali.
Di sisi lain, Panglima militer Pakistan, Marsekal Lapangan Asim Munir, tiba di Teheran pada 22 Mei untuk melanjutkan upaya mediasi. Pakistan sebelumnya menjadi tuan rumah satu-satunya pembicaraan langsung AS–Iran sejak perang dimulai pada Februari. Namun, perundingan itu gagal karena Iran menilai tuntutan AS terlalu berat.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan perbedaan pendapat antara kedua negara masih “mendalam dan luas.” Delegasi Qatar juga dilaporkan ikut bertemu dengan pejabat Iran.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut ada “beberapa kemajuan” dalam pembicaraan, tetapi memperingatkan kesepakatan mungkin sulit tercapai. Rubio menambahkan, jika diplomasi gagal, AS dan sekutu bisa mempertimbangkan “Rencana B” untuk membuka paksa Selat Hormuz, jalur vital ekspor minyak yang kini ditutup Iran sebagai balasan atas serangan AS–Israel.
Sementara itu, pasar global bereaksi beragam. Wall Street mencatat kenaikan dengan Dow menutup rekor tertinggi kedua berturut-turut, tetapi harga minyak melonjak, memicu kekhawatiran inflasi. Uni Eropa juga bergerak menuju sanksi baru terhadap pejabat Iran yang dituduh memblokir selat tersebut.