JAKARTA – Harga RAM menjadi perhatian pengguna PC dan laptop sepanjang 2026. Komponen yang sebelumnya relatif mudah didapat dengan harga terjangkau kini menghadapi tekanan harga akibat ketatnya pasokan DRAM global.
Kenaikan tersebut tidak terjadi tanpa alasan. Salah satu faktor terbesar yang mendorong perubahan pasar memori adalah meningkatnya kebutuhan infrastruktur kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Perusahaan teknologi global kini membangun pusat data dalam skala besar untuk menjalankan berbagai layanan AI. Kondisi tersebut meningkatkan permintaan terhadap memori berperforma tinggi, termasuk High Bandwidth Memory (HBM) dan DRAM server.
Produksi Memori Banyak Dialihkan untuk AI
HBM merupakan jenis memori yang dirancang untuk menyediakan bandwidth sangat tinggi dan banyak digunakan pada akselerator AI. Meningkatnya permintaan terhadap teknologi tersebut membuat produsen memori besar harus mengatur kembali kapasitas produksinya.
TrendForce menyebut produsen memori mengalokasikan lebih banyak kapasitas untuk kebutuhan server dan HBM guna memenuhi permintaan AI. Akibatnya, pasokan DRAM yang diperuntukkan bagi PC dan perangkat konsumen menjadi lebih terbatas.
Kondisi ini menciptakan persaingan mendapatkan pasokan memori. Ketika permintaan tetap tinggi sementara kapasitas yang tersedia terbatas, harga komponen pun terdorong naik.
Harga DRAM Sudah Naik Signifikan
Kenaikan harga tidak hanya terlihat di tingkat toko. Harga kontrak DRAM di pasar global juga mengalami peningkatan.
TrendForce memperkirakan harga kontrak conventional DRAM naik 13–18 persen secara kuartalan pada kuartal III 2026. Kenaikan tersebut terjadi meskipun pertumbuhan permintaan dari pasar konsumen mulai melambat.
Sebelumnya, pada kuartal I 2026, TrendForce bahkan memperkirakan harga kontrak conventional DRAM melonjak 55–60 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Sementara harga DRAM server diproyeksikan meningkat lebih dari 60 persen secara kuartalan pada periode tersebut.
Artinya, kenaikan harga RAM yang dirasakan konsumen merupakan bagian dari tekanan yang terjadi sejak tingkat industri memori.
RAM PC Ikut Terdampak
Meskipun HBM digunakan untuk kebutuhan AI dan bukan RAM PC biasa, keduanya tetap berkaitan dengan industri DRAM yang sama.
Produsen harus membagi kapasitas produksi untuk berbagai jenis memori. Ketika kapasitas lebih banyak diarahkan ke server dan HBM, pasokan untuk kebutuhan PC dapat ikut mengetat.
TrendForce mencatat bahwa realokasi kapasitas menuju aplikasi server mengurangi pasokan yang tersedia untuk PC DRAM. Kondisi tersebut kemudian berpotensi mendorong harga komponen PC dan bahkan harga laptop.
Dengan demikian, pengguna yang ingin melakukan upgrade RAM bukan hanya menghadapi perubahan harga di toko, tetapi juga dampak dari kondisi pasokan memori global.
DDR4 Juga Tidak Luput dari Tekanan
Menariknya, kenaikan harga tidak hanya terjadi pada RAM generasi terbaru seperti DDR5. Memori generasi sebelumnya juga menghadapi tekanan pasokan.
TrendForce mencatat produsen secara bertahap mengalihkan kapasitas produksi ke produk yang lebih maju dan aplikasi server. Akibatnya, pasokan pada proses produksi yang lebih lama ikut mengetat.
Data harga spot TrendForce pada 31 Agustus 2026 menunjukkan rata-rata sesi untuk modul DDR5 UDIMM 16GB 4800/5600 berada di level 227,50 dalam denominasi dolar AS pada data pasar modul yang diperbarui sebelumnya, sedangkan DDR4 UDIMM 16GB 3200 berada di sekitar 162,20. Angka tersebut merupakan indikator pasar komponen dan bukan harga retail RAM di Indonesia.
Harga yang dibayarkan konsumen di Indonesia tentu dapat berbeda karena dipengaruhi merek, kapasitas, kurs rupiah, distributor, pajak, serta margin penjual.
Apakah Harga RAM Akan Segera Turun?
Belum tentu.
TrendForce memperkirakan pasar DRAM masih berada dalam kondisi ketat pada kuartal III 2026. Permintaan dari server AI tetap menjadi salah satu faktor utama yang menopang harga memori, meskipun kenaikan harga diperkirakan lebih moderat dibandingkan periode sebelumnya.
Bahkan, SK Hynix pada Agustus 2026 memperkirakan kekurangan pasokan memori dapat bertahan hingga 2030, seiring kuatnya permintaan dari industri AI dan kebutuhan pusat data. Perusahaan tersebut juga menyiapkan investasi besar untuk meningkatkan kapasitas produksi HBM.
Hal ini menunjukkan bahwa persoalan harga RAM bukan sekadar kenaikan sementara di tingkat toko. Industri memori sedang mengalami perubahan besar karena kebutuhan komputasi AI yang terus berkembang.
Jadi, Kenapa RAM Mahal?
Secara sederhana, ada beberapa faktor utama yang membuat harga RAM meningkat:
- Permintaan AI meningkat, terutama untuk server dan akselerator AI.
- HBM membutuhkan kapasitas produksi memori, sehingga produsen mengalokasikan lebih banyak sumber daya ke produk tersebut.
- Pasokan DRAM PC menjadi lebih terbatas akibat realokasi kapasitas.
- Harga kontrak DRAM global meningkat, kemudian tekanannya dapat diteruskan ke produsen perangkat dan pasar ritel.
- Kekurangan pasokan diperkirakan belum cepat berakhir, sehingga harga masih berpotensi bertahan tinggi.
Jadi, ketika harga RAM di pasaran terasa semakin mahal, penyebabnya bukan semata-mata karena toko menaikkan harga. Ada perubahan besar dalam industri semikonduktor global yang membuat memori semakin diperebutkan, terutama sejak kebutuhan komputasi AI berkembang pesat.
Bagi pengguna PC, kondisi tersebut membuat upgrade RAM menjadi lebih mahal dibandingkan sebelumnya. Karena itu, konsumen yang tidak membutuhkan kapasitas tambahan dalam waktu dekat dapat mempertimbangkan menunda upgrade sambil memantau perkembangan harga pasar.