TEL AVIV, ISRAEL — Militer Israel dilaporkan menghadapi tantangan serius dalam menghadapi serangan drone First Person View (FPV) milik Hizbullah di wilayah perbatasan utara. Media Israel, The Jerusalem Post, mengungkap bahwa penggunaan drone jenis tersebut mulai memberi tekanan besar terhadap sistem pertahanan Israel, bahkan memicu jatuhnya korban di pihak militer.
Laporan itu menyebut Hizbullah kini memanfaatkan teknologi drone FPV berbasis serat optik untuk menghindari sistem pengacau sinyal elektronik milik Israel. Metode tersebut memungkinkan operator drone mengendalikan perangkat secara manual melalui kabel serat optik khusus, sehingga tidak mudah dilumpuhkan oleh sistem peperangan elektronik.
Dalam rekaman yang dirilis Hizbullah, terlihat drone FPV menyerang baterai pertahanan udara Iron Dome di kawasan perbatasan utara Israel. Video tersebut langsung memicu sorotan karena memperlihatkan potensi celah dalam sistem pertahanan udara yang selama ini menjadi andalan Israel menghadapi ancaman roket dan rudal.
The Jerusalem Post melaporkan bahwa pejabat senior Israel sebenarnya telah membahas sejumlah program percontohan baru saat melakukan kunjungan ke Lebanon selatan pekan lalu. Program itu difokuskan untuk meningkatkan kemampuan mendeteksi dan menembak jatuh drone FPV.
Namun media tersebut menilai langkah Israel masih tertinggal dari perkembangan taktik yang digunakan Hizbullah di lapangan.
“Militer masih berusaha mengejar ketinggalan secara real time,” tulis laporan tersebut.
Meski Pasukan Pertahanan Israel (IDF) belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait video serangan itu, sejumlah sumber internal disebut tidak mampu membantah keaslian rekaman yang beredar. Visual serangan dinilai cukup jelas memperlihatkan kemampuan drone FPV menembus pertahanan Israel.
Serangan diduga terjadi beberapa hari sebelum video dipublikasikan. Hizbullah diyakini membutuhkan waktu untuk mengumpulkan serta menyunting dokumentasi operasi sebelum dirilis ke publik.
Fenomena drone FPV sendiri mulai menjadi perhatian dunia militer setelah penggunaannya meluas dalam perang Rusia-Ukraina. Drone berukuran kecil tersebut dikenal sulit dideteksi radar dan mampu menyerang target secara presisi dengan biaya relatif murah.
Sejak 2024, Israel disebut telah meningkatkan efektivitas dalam mencegat drone konvensional. Namun, karakteristik drone FPV yang lincah dan dikendalikan langsung oleh operator membuat sistem pertahanan Israel kesulitan beradaptasi.
Mantan Kepala Pertahanan Udara IDF Brigadir Jenderal (Purn) Ran Kochav bahkan pernah memperingatkan kerentanan sistem pertahanan udara Israel terhadap serangan drone.
Pada pertengahan Maret lalu, Kochav menilai perlindungan terhadap sistem Iron Dome, David’s Sling, dan Arrow masih belum optimal. Ia mengingatkan bahwa kegagalan melindungi instalasi pertahanan udara dapat berdampak serius terhadap keamanan nasional Israel secara keseluruhan.
“Kita harus mempertahankan seluruh wilayah negara, tetapi sistem pertahanan udara adalah yang paling penting dan paling rentan. Jika sistem itu diserang, maka pertahanan yang lebih luas bisa runtuh,” ujar Kochav dalam peringatannya.
Meningkatnya ancaman drone Hizbullah terjadi di tengah eskalasi konflik lintas perbatasan antara Israel dan kelompok bersenjata Lebanon tersebut. Sejak perang Gaza pecah, kawasan perbatasan Israel-Lebanon terus diwarnai saling serang menggunakan roket, rudal, hingga drone tempur.
Di sisi lain, sorotan internasional juga mengarah pada meningkatnya korban sipil dan tenaga medis di Lebanon serta Gaza akibat operasi militer Israel.
Ahli bedah Tahir Mohammed, yang pernah bekerja di Lebanon dan Gaza, mempertanyakan klaim Israel bahwa Hizbullah menggunakan ambulans untuk mengangkut senjata.
Ia mengaku tidak menemukan bukti atas tuduhan tersebut selama bertugas di lapangan.
“Saya sama sekali tidak melihat bukti bahwa Hizbullah menggunakan ambulans untuk mengangkut senjata di Lebanon,” kata Mohammed.
Ia juga menyinggung insiden yang menimpa seorang jurnalis di Lebanon selatan beberapa hari lalu. Menurutnya, ambulans dan petugas bantuan sempat mencoba memberikan pertolongan, namun tidak diizinkan mendekat.
“Sebagai tanggapan, beberapa hari yang lalu, seorang jurnalis di Lebanon diserang, dan ambulans serta petugas bantuan ingin menolongnya tetapi mereka tidak diizinkan. Jadi, apa argumennya di sana, ketika dia meninggal di Lebanon selatan?” ujarnya.
Mohammed turut mengaitkan situasi di Lebanon dengan pengalaman yang ia saksikan langsung di Gaza. Ia menyebut petugas medis di wilayah tersebut juga menjadi sasaran serangan saat berusaha mengevakuasi korban luka.
“Kita telah melihat rekaman petugas ambulans di Gaza ketika mereka pergi untuk menjemput beberapa orang yang terluka, dan kemudian mereka semua dibantai dan dikubur di kuburan dangkal. Jadi argumen-argumen ini tidak memiliki bobot,” katanya.
Menurut Mohammed, pola serangan terhadap tenaga kesehatan di Lebanon dan Gaza menunjukkan konsistensi kebijakan militer Israel di medan konflik.
“Saya telah melihat rekan-rekan saya di Gaza dibunuh dengan senjata Israel, dan karena itu, kebijakan yang sama untuk menargetkan petugas kesehatan [di Lebanon] adalah hal yang konsisten bagi mereka,” tutur Mohammed.