JAKARTA – Juru Bicara Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) Prita Laura memastikan bahwa menu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi yang sesuai dengan kelompok penerima program.
Kelompok penerima MBG meliputi ibu hamil, ibu menyusui, balita, serta anak sekolah dari jenjang SD hingga SMA.
“Yang paling penting itu adalah angka kecukupan gizi. Kalau dilihat menunya bisa sama, tapi gramasinya beda. Misalnya gramasi nasinya, potongan ayamnya itu berbeda, potongan proteinnya berbeda,” kata Prita di Jakarta, Jumat (10/1).
Ahli Gizi dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ciracas, Wiwit Suastika, menjelaskan bahwa pemberian menu untuk ibu hamil disesuaikan dengan usia kehamilan.
“Misalkan ibu hamil itu ada kategori trimester 1, 2, 3. Jadi ada perbedaan asupan kilo kalori-nya. Kalau ibu hamil itu yang diberikan tambahan 300 kkal, di 6 bulan selanjutnya itu 500 kkal,” kata Wiwit.
Pemerintah bekerja sama dengan kader posyandu yang telah dilatih oleh BKKBN untuk memastikan pendataan penerima secara berkala.
“Mekanisme terus dirapikan, karena bukan hanya BGN sendiri yang bekerja, tapi tadi bisa kita lihat beberapa kementerian/lembaga bergabung, seperti BKKBN dengan kader-kader posyandu,” ujar Prita.
Prita juga menjelaskan bahwa MBG tidak hanya ditujukan untuk anak sekolah, tetapi juga untuk balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.
Penyalurannya dilakukan melalui posyandu untuk memastikan kebutuhan gizi anak terpenuhi selama masa emas atau 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
“Lewat posyandu ini, kita ingin memastikan MBG diterima anak sejak mereka berada di masa golden age, agar terhindar dari ancaman stunting, obesitas, dan dampak malnutrisi lainnya,” kata Prita.
Program MBG yang dimulai dengan distribusi mingguan kepada balita, ibu hamil, dan ibu menyusui, direncanakan akan ditingkatkan menjadi pemberian harian setelah program berjalan secara rutin. Masa 1.000 HPK menjadi perhatian utama karena merupakan periode penting dalam pertumbuhan otak dan fisik anak.