Sedikitnya 26 orang tewas, termasuk tujuh petugas penjara, dalam kerusuhan yang berlangsung selama dua hari di Penjara Negombo, Sri Lanka bagian barat. Insiden tersebut juga menyebabkan lebih dari 100 orang terluka.
Kerusuhan bermula pada Minggu (6/7) setelah terjadi bentrokan antara dua kelompok narapidana. Situasi semakin memanas ketika sejumlah tahanan diduga merebut senjata milik petugas. Dua orang dilaporkan tewas pada hari pertama, sementara puluhan lainnya mengalami luka-luka.
Ketegangan berlanjut pada Senin (7/7) ketika para narapidana berusaha menerobos gerbang penjara. Aparat keamanan dikerahkan untuk mengendalikan situasi, sementara suara tembakan terdengar dari dalam kompleks penjara. Sejumlah narapidana, termasuk tahanan perempuan dari blok terpisah, juga sempat memanjat atap penjara sambil menuntut pembebasan.
Menurut laporan awal, kerusuhan dipicu oleh perselisihan terkait seorang narapidana yang diduga membocorkan aktivitas perdagangan narkoba di dalam penjara.
Pihak berwenang menyebutkan 23 petugas penjara dan 54 narapidana masih menjalani perawatan. Sebagian korban mengalami luka tembak, sementara lainnya menderita luka sayatan dan memar akibat bentrokan. Sebagian korban dirawat di Rumah Sakit Negombo, sedangkan lainnya dievakuasi ke Rumah Sakit Nasional Kolombo.
Di tengah kerusuhan, sebagian atap penjara dilaporkan runtuh dan menyebabkan beberapa narapidana perempuan mengalami cedera.
Sementara itu, keluarga narapidana memadati area luar penjara untuk mencari informasi mengenai kondisi kerabat mereka. Banyak di antaranya mengaku belum mendapat kepastian apakah anggota keluarganya selamat atau menjadi korban.
Pemerintah Sri Lanka telah mengerahkan militer untuk membantu pengamanan dan mulai memindahkan narapidana ke sejumlah penjara lain guna meredakan situasi. Menteri Kehakiman dan Penjara, Harshana Nanayakkara, juga memerintahkan penyelidikan menyeluruh atas insiden tersebut.
Kerusuhan ini menjadi salah satu yang paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu faktor yang diyakini memperparah situasi adalah kondisi penjara Sri Lanka yang mengalami kelebihan kapasitas. Hingga akhir pekan lalu, jumlah penghuni penjara mencapai sekitar 41.250 orang, atau hampir empat kali lipat dari kapasitas yang tersedia.