JATIM – Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI Wahyu Yudhayana menepis tudingan penyanderaan terhadap tiga prajuritnya oleh warga Desa Kaligedang, Kecamatan Ijen, Bondowoso, pada Kamis malam kemarin.
“Tidak ada penyanderaan. Ini hanya miskomunikasi antara warga dan aparat, dan telah diselesaikan bersama di lapangan,” ujar Brigjen Wahyu, Jumat (16/5).
Latar Belakang Ketegangan
Ketegangan bermula dari rencana warga untuk membangun pos keamanan lingkungan (poskamling) di atas lahan yang dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII. Meski telah mendapat restu dari kepala desa, pihak PTPN menolak rencana tersebut.
Prajurit TNI yang bertugas di lokasi sempat mencoba meredam aksi warga, namun situasi justru memanas.
Warga yang tersulut emosi kemudian menahan tiga prajurit, membakar rumah dinas kepala afdeling PTPN XII, serta memblokir akses jalan desa dengan menebang pohon. Situasi sempat mencekam dengan adanya sweeping terhadap orang luar yang masuk ke wilayah desa.
Prajurit Sedang Bertugas, Bukan Provokator
Komandan Yonif 514/SY, Letkol Inf Mohammad Ibrahim Sidik Soulisa, menyampaikan bahwa kehadiran anggotanya di lapangan adalah dalam rangka mendukung pemetaan lahan untuk program ketahanan pangan – program kerja sama antara PTPN 1 Regional 5 dan koperasi Yonif 514/SY.
“Anggota kami sedang menjalankan tugas resmi. Situasi menjadi panas karena miskomunikasi di lapangan, bukan karena adanya provokasi,” jelasnya.
Pernyataan ini sekaligus menolak narasi bahwa prajurit TNI bertindak melampaui kewenangannya atau memihak secara tidak adil kepada perusahaan.
Dialog Jadi Kunci Meredakan Situasi
Setelah insiden memanas, Muspika Ijen bergerak cepat melakukan mediasi. Kapolres Bondowoso AKBP Harto Agung Cahyono memimpin dialog bersama tokoh masyarakat, TNI, dan Polri. Upaya ini membuahkan hasil: ketiga prajurit yang sempat ditahan warga akhirnya dibebaskan pada Jumat dini hari (17/5) pukul 00.05 WIB.
“Sudah kami temui warga, kami ajak musyawarah. Alhamdulillah, situasi bisa dikendalikan,” ujar Kapolres.
Camat Ijen Wisnu Hartono membenarkan waktu pembebasan tersebut dan menyebut bahwa kondisi desa kini mulai kondusif, meski masih ada satu prajurit yang dilaporkan mengalami luka ringan.
Konflik Lama yang Perlu Pendekatan Baru
Ketegangan di Kaligedang tak bisa dilepaskan dari konflik agraria yang telah berlangsung lama antara warga dan PTPN XII. Status kepemilikan lahan yang tidak transparan kerap memicu ketidakpercayaan masyarakat terhadap perusahaan dan aparat.
Namun TNI mengingatkan pentingnya membedakan antara tindakan represif dan pelaksanaan tugas kenegaraan. Mereka berharap masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh narasi penyanderaan yang bisa memperkeruh situasi.
Langkah Lanjutan: Membangun Dialog yang Konsisten
Kapolsek Ijen Iptu Suherdi menyampaikan bahwa aparat kini mengedepankan pendekatan persuasif dan dialogis agar ketegangan tidak kembali terulang.
“Kami terus kumpulkan tokoh masyarakat dan membuka ruang dialog agar warga merasa didengar,” ujarnya.
TNI dan Polri sepakat untuk memperkuat koordinasi dengan pemerintah desa dan masyarakat agar program pemerintah dapat berjalan tanpa menimbulkan gesekan.