WASHINGTON, AS — Kritik terhadap keterlibatan Amerika Serikat di Timur Tengah kembali menguat. Washington dinilai terlalu jauh ikut campur dalam konflik Iran demi melindungi Israel dan negara-negara Teluk Arab.
Sorotan tajam datang dari Jenderal (Purn) Mark Kimmitt. Mantan pejabat militer AS itu meminta Washington menghentikan keterlibatan militernya di kawasan Teluk dalam wawancara dengan Al Jazeera.
Menurutnya, negara-negara Teluk seharusnya memiliki kemampuan untuk menghadapi ancaman Iran tanpa terus bergantung pada perlindungan Washington.
“AS seharusnya meninggalkan kawasan Teluk dan membiarkan negara-negara Teluk menangani Iran sendiri,” ujar Kimmitt.
Pernyataan tersebut mencerminkan meningkatnya perdebatan di dalam negeri AS terkait biaya politik dan ekonomi dari operasi militer berkepanjangan di Timur Tengah. Banyak kalangan menilai dana besar yang digelontorkan pemerintah untuk menjaga keamanan kawasan tidak lagi sebanding dengan kepentingan nasional Amerika saat ini.
Kimmitt bahkan menyinggung langsung beban pajak warga Amerika yang menurutnya selama ini digunakan untuk menopang pertahanan negara-negara lain.
“Itu uang pajak saya. Uang keluar dari kantong saya sebagai warga Amerika untuk membantu menyediakan pertahanan bagi kawasan Anda,” katanya.
Fokus Lindungi Israel
Dalam pandangannya, Amerika Serikat masih memiliki kepentingan strategis untuk menjaga keamanan Israel. Namun, ia menilai tanggung jawab pertahanan negara-negara Teluk tidak seharusnya sepenuhnya dibebankan kepada Washington.
“Kita bisa menghemat banyak uang jika kita hanya mengatakan, ‘Oke, kami akan pergi. Sekarang Anda harus mengurus diri sendiri’,” ujar Kimmitt.
Ia menambahkan bahwa perlindungan terhadap Israel tetap dapat dilakukan tanpa harus mempertahankan kehadiran militer besar-besaran di seluruh kawasan Teluk.
“Kita tentu bisa melindungi Israel di Israel, dan kita bisa membiarkan negara-negara Teluk mengurus diri mereka sendiri,” lanjutnya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik setelah ancaman Iran terhadap jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz kembali mencuat. Jalur laut itu menjadi salah satu titik paling vital dalam distribusi energi global karena menjadi lintasan utama ekspor minyak dari kawasan Teluk.
AS Dinilai Mengulang Strategi Era Perang Teluk
Kimmitt juga menyoroti langkah militer Amerika Serikat yang dinilai mulai mengarah pada pola lama seperti yang diterapkan saat Perang Teluk pada dekade 1980-an.
Kala itu, Angkatan Laut AS mengawal kapal tanker minyak Kuwait yang melintas di Teluk Persia guna mengantisipasi ancaman serangan selama konflik regional berlangsung.
Menurut Kimmitt, pendekatan serupa kini berpotensi kembali diterapkan apabila situasi keamanan di Selat Hormuz memburuk.
“Seperti yang kita lihat hari ini, Iran masih mengeluarkan ancaman. Jelas, jika kapal-kapal itu akan melewati wilayah ini, mereka membutuhkan perlindungan,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa perusahaan asuransi internasional kemungkinan besar tidak akan mengizinkan kapal dagang melintas tanpa jaminan keamanan dari kekuatan militer.
“Perusahaan asuransi saja tidak akan mengizinkan mereka lewat tanpa perlindungan. Jadi, blokade yang akan dilakukan AS ini sangat mirip dengan apa yang kita lakukan dari tahun 1981 hingga 1988, ketika kita mengawal kapal tanker minyak Kuwait melalui Teluk,” ucapnya.
Kimmitt kemudian memaparkan gambaran operasi militer yang kemungkinan dijalankan AS apabila eskalasi meningkat di Selat Hormuz. Menurutnya, armada kapal induk Amerika biasanya didukung lapisan pertahanan berlapis untuk menghadapi berbagai ancaman modern.
“Sebuah gugus tugas kapal induk memiliki serangkaian kapal di luar dan di sekitar kapal induk yang dilindungi, dan mereka memiliki berbagai tindakan untuk manuver anti-drone, anti-pesawat, dan anti-kapal selam,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa skenario pengawalan kapal dagang oleh Angkatan Laut AS dapat kembali menjadi opsi utama apabila ancaman terhadap jalur perdagangan internasional terus meningkat.
“Dalam hal ini, yang akan kita lihat adalah Angkatan Laut AS akan memberikan kordon pelindung dan pengawalan kepada kapal-kapal tersebut saat mereka melewati Selat Hormuz,” tuturnya.
Perdebatan soal peran Amerika Serikat di Timur Tengah sendiri terus menguat dalam beberapa tahun terakhir. Sebagian kalangan menilai kehadiran militer AS diperlukan demi menjaga stabilitas kawasan dan keamanan jalur energi dunia. Namun, pihak lain menilai keterlibatan berkepanjangan justru menguras anggaran, memperbesar risiko konflik, dan menyeret Washington ke dalam ketegangan regional yang tak kunjung usai.