WASHINGTON, AS – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadapi tekanan politik yang semakin rumit di tengah eskalasi konflik Timur Tengah. Di saat Washington bersama Israel meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan dalih menghentikan program nuklir Teheran, suara-suara di Kongres justru mulai menuntut keterbukaan terkait arsenal nuklir Israel yang selama puluhan tahun berada dalam “zona abu-abu” diplomatik.
Langkah yang sebelumnya nyaris tabu di politik Amerika itu kini muncul secara terbuka. Sebanyak 30 anggota Partai Demokrat di DPR AS yang dipimpin Joaquin Castro mengirim surat resmi kepada Menteri Luar Negeri Marco Rubio. Mereka meminta pemerintah mengakhiri kebijakan diam terhadap kemampuan nuklir Israel yang selama ini tidak pernah diakui maupun dibantah secara resmi.
Desakan tersebut dinilai sebagai perubahan besar dalam dinamika politik Washington, terutama karena isu nuklir Israel selama ini menjadi topik sensitif yang jarang disentuh secara frontal oleh politisi arus utama AS.
Para legislator menilai standar ganda dalam kebijakan luar negeri Amerika semakin sulit dipertahankan di tengah meningkatnya ketegangan kawasan. Mereka menyoroti bagaimana AS terus menekan Iran melalui sanksi dan operasi militer terkait program nuklirnya, sementara pada saat yang sama menutup mata terhadap kemampuan nuklir Israel yang berada di luar pengawasan internasional.
“Kita tidak bisa membangun kebijakan yang konsisten untuk mencegah proliferasi nuklir di Timur Tengah, sambil tetap mempertahankan kebijakan bungkam terhadap kemampuan nuklir salah satu pihak utama dalam konflik yang sedang berlangsung,” demikian isi pernyataan para legislator tersebut, dikutip dari Al Jazeera, Kamis (7/5/2026).
Pernyataan itu mencerminkan perubahan sikap yang makin nyata di tubuh Partai Demokrat terhadap Israel. Dukungan tradisional yang selama puluhan tahun hampir tanpa syarat kini mulai terkikis oleh kemarahan publik atas tingginya korban sipil dalam perang di Gaza dan Lebanon.
Analis politik Jeremy Shapiro menilai perubahan ini bukan lagi sekadar kritik dari kelompok progresif kiri, melainkan sudah merambah basis utama pemilih Demokrat.
Data Pew Research Center menunjukkan sekitar 80 persen pemilih Demokrat kini memandang Israel secara negatif dan menginginkan negara tersebut diperlakukan dengan standar internasional yang sama seperti negara lain.
Perubahan atmosfer politik itu juga terlihat dari pernyataan pengamat Scott McConnell yang menilai isu monopoli nuklir Israel selama ini sengaja dihindari dalam diskursus publik Amerika.
“Kita telah menjalani dua perang di abad ini untuk menjaga monopoli nuklir Israel. Mungkin monopoli itu penting dan diperlukan, tetapi setidaknya kita bisa mulai membicarakannya,” ujar McConnell.
Warisan “Ambiguitas Nuklir” Israel
Selama lebih dari lima dekade, Israel mempertahankan kebijakan yang dikenal sebagai “nuclear ambiguity” atau ambiguitas nuklir. Tel Aviv tidak pernah secara resmi mengakui memiliki senjata nuklir, tetapi juga tidak menyangkalnya.
Kebijakan tersebut berakar pada kesepakatan tidak tertulis antara Presiden AS Richard Nixon dan Perdana Menteri Israel Golda Meir pada 1969. Dalam kesepakatan itu, Washington disebut sepakat untuk tidak menekan Israel terkait program nuklirnya selama Tel Aviv tidak mendeklarasikan kepemilikan senjata tersebut secara terbuka.
Sejarawan Avner Cohen menyebut strategi itu tidak mungkin bertahan tanpa perlindungan politik Amerika Serikat.
Akibatnya, Israel hingga kini tetap berada di luar Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons (NPT) dan tidak membuka fasilitas nuklirnya kepada pengawasan internasional.
Situasi itu berbanding terbalik dengan Iran yang justru menjadi anggota NPT dan fasilitas nuklirnya diawasi badan internasional, meski kerja sama Teheran dengan pengawas global kerap menjadi sumber sengketa.
Salah satu momen paling mengejutkan dalam sejarah program nuklir Israel terjadi pada 1986 ketika teknisi nuklir Mordechai Vanunu membocorkan foto serta informasi dari fasilitas nuklir Dimona kepada surat kabar Sunday Times.
Kebocoran tersebut mengguncang dunia internasional dan memperkuat dugaan bahwa Israel memang memiliki arsenal nuklir rahasia. Namun Vanunu kemudian diculik Mossad dan dipenjara selama 18 tahun.
Hingga kini, jumlah pasti hulu ledak nuklir Israel tetap menjadi misteri. Stockholm International Peace Research Institute memperkirakan Israel memiliki sekitar 80 hulu ledak nuklir, meski sejumlah analisis independen menyebut jumlahnya bisa jauh lebih besar.
Ancaman Hukum bagi Bantuan Militer AS
Tekanan agar Washington mengakui kemampuan nuklir Israel ternyata tidak hanya berdampak diplomatik, tetapi juga berpotensi memicu persoalan hukum serius bagi Gedung Putih.
Sejumlah analis menilai pengakuan resmi terhadap arsenal nuklir Israel dapat mengaktifkan aturan hukum domestik AS yang melarang bantuan keamanan kepada negara pemilik senjata nuklir yang berada di luar sistem pengawasan internasional.
Jika skenario itu terjadi, pemerintahan Trump dapat menghadapi tuntutan hukum untuk menghentikan bantuan militer kepada Israel atau mencari celah melalui mekanisme pengecualian presiden.
Dilema tersebut menjadi semakin sensitif karena Israel merupakan salah satu penerima bantuan militer terbesar dari Amerika Serikat.
Di balik layar, kekhawatiran Washington juga disebut berkembang terkait doktrin pertahanan nuklir Israel, terutama di tengah meningkatnya risiko perang regional berskala besar.
Doktrin keamanan Israel selama ini memandang konflik besar di Timur Tengah sebagai ancaman eksistensial terhadap keberlangsungan negara. Dalam konteks itu, muncul kekhawatiran mengenai kemungkinan penerapan “Samson Option”, yakni skenario penggunaan kekuatan destruktif besar sebagai jalan terakhir jika Israel berada di ambang kekalahan.
Kekhawatiran tersebut meningkat setelah serangan rudal Iran pada Maret 2026 menghantam wilayah Dimona dan Arad, dekat fasilitas nuklir utama Israel. Serangan itu disebut sebagai balasan atas operasi gabungan AS-Israel terhadap program nuklir Iran.
Meski tidak menyebabkan kebocoran radiasi, insiden tersebut memunculkan pertanyaan serius di kalangan pejabat keamanan AS mengenai sejauh mana Israel dapat menahan diri apabila serangan serupa menimbulkan korban besar atau melumpuhkan sistem pertahanan mereka.
Kredibilitas Kebijakan AS Dipertaruhkan
Perdebatan mengenai arsenal nuklir Israel kini berkembang menjadi ujian besar bagi kredibilitas kebijakan luar negeri Amerika Serikat di Timur Tengah.
Selama bertahun-tahun, Washington menjadi motor utama kampanye nonproliferasi terhadap Iran dan negara-negara lain. Namun sikap diam terhadap program nuklir Israel dinilai membuat posisi moral AS semakin sulit dipertahankan di mata dunia internasional.
Di tengah konflik kawasan yang terus memanas, paradoks itu menjadi semakin jelas: tekanan internasional terus diarahkan kepada Iran yang berada dalam rezim pengawasan global, sementara Israel yang diyakini memiliki senjata nuklir justru tetap berada di luar sistem internasional tanpa transparansi resmi.
Kondisi tersebut kini tidak lagi dianggap sekadar “rahasia umum”, melainkan telah berubah menjadi isu strategis yang dapat memengaruhi stabilitas kawasan, hubungan AS-Israel, hingga arah politik domestik Amerika sendiri.