JAKARTA — Kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengeluarkan ultimatum kepada Amerika Serikat untuk menerima proposal perdamaian 14 poin yang diajukan Teheran atau menghadapi “kegagalan.” Pernyataan keras itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump menolak tawaran balasan terbaru Iran dan menyebut gencatan senjata sejak 8 April berada dalam kondisi kritis.
“Tidak ada alternatif lain selain menerima hak-hak rakyat Iran sebagaimana diuraikan dalam usulan 14 poin. Pendekatan lain apa pun akan sepenuhnya tidak membuahkan hasil; hanya kegagalan demi kegagalan,” tulis Ghalibaf di X, dikutip Hurriyet Daily News, Selasa (1/5/026). Ia menambahkan bahwa semakin lama Washington menunda, semakin besar beban pajak warga Amerika.
Iran menolak mundur dari konflik, dengan militer memperingatkan siap merespons serangan AS. Ketegangan di Selat Hormuz telah mengganggu jalur perdagangan global, sementara AS memberlakukan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran.
Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan proposalnya mencakup penghentian perang di semua lini, termasuk Lebanon, pencabutan blokade AS, serta pembebasan aset Iran yang dibekukan. Namun, belum ada rincian jelas mengenai imbalan yang ditawarkan Teheran.
Di sisi lain, parlemen Iran mempertimbangkan opsi pengayaan uranium hingga 90 persen jika konflik berlanjut. Anggota komisi keamanan nasional, Ebrahim Rezaei, menulis di X, “Salah satu opsi Iran jika terjadi serangan lain adalah pengayaan uranium hingga 90 persen. Kami akan membahasnya di parlemen.”
Iran saat ini memiliki persediaan uranium yang diperkaya hingga 60 persen, jumlah signifikan yang menjadi titik krusial dalam negosiasi dengan AS. Washington menuntut agar stok tersebut dipindahkan keluar negeri, namun Teheran menolak dan menegaskan haknya atas energi nuklir damai, meski menyebut tingkat pengayaan masih “dapat dinegosiasikan.”