JAKARTA – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah menyiapkan langkah strategis untuk mempercepat transformasi kawasan Kota Tua menjadi destinasi wisata berkelas dunia. Salah satu langkah yang paling mencolok adalah rencana Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, memindahkan aktivitas kantornya ke kawasan bersejarah tersebut guna memantau langsung proses revitalisasi.
Langkah ini diambil untuk memastikan proyek ambisius tersebut berjalan sesuai target, sekaligus memperkuat posisi Jakarta sebagai kota global yang tetap berpijak pada akar budaya dan sejarahnya.
Benchmark Kota Lama Semarang
Kepala Unit Pengelola Kawasan (UPK) Kota Tua Jakarta, Denny Aputra, mengungkapkan proses pembenahan kali ini menjadikan keberhasilan Kota Lama Semarang sebagai tolok ukur utama. Kehadiran Wakil Gubernur di lapangan diharapkan mampu memangkas jalur birokrasi dan mempercepat pengambilan keputusan teknis.
“Kami akan revitalisasi Kota Tua. Harapannya, benchmark-nya ke Kota Lama Semarang. Rencananya, Wagub akan bekerja di sana dan membangun Kota Tua lebih baik lagi,” ujar Denny Aputra di Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Denny menambahkan, kawasan seluas 334 hektare itu akan dikelola lebih intensif melalui pembagian zona yang jelas. Rencana tersebut mencakup tiga area utama, yakni zona inti, zona pengembangan, dan zona penunjang.
Fokus utama saat ini adalah membenahi infrastruktur dasar yang selama ini menjadi keluhan pengunjung, seperti penyediaan kantong parkir yang memadai serta penataan pedagang kaki lima (PKL).
Sejarah Panjang Revitalisasi
Proyek revitalisasi yang tengah berjalan merupakan tahap keenam dalam sejarah modern penataan Kota Tua. Sejak era 1970-an, kawasan tersebut telah beberapa kali direvitalisasi, meski tantangan konsistensi perawatan masih menjadi persoalan utama.
Berikut tahapan revitalisasi Kota Tua:
- Era 1971–1977
Fokus pada penataan Taman Fatahillah, Museum Sejarah Jakarta, hingga Gugus Pulau Onrust. - Era 2004–2006
Ditandai dengan peresmian Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia. - Era 2013
Revitalisasi menyasar Gedung Kantor Pos Fatahillah dan aset-aset BUMN. - Era 2016–2018
Penataan dilakukan di kawasan Kali Besar sisi selatan dan Lokbin Taman Kota Intan. - Era 2022
Fokus pada integrasi transportasi di Stasiun Beos serta fasilitas park and ride.
Pengawasan Langsung Melalui Pokja
Keinginan Rano Karno berkantor di Kota Tua disebut bukan tanpa alasan. Ia ingin memastikan koordinasi lintas instansi berjalan lebih efektif dan tanpa hambatan birokrasi.
Untuk mendukung mobilitas dan efektivitas kerja di lapangan, Pemprov DKI Jakarta juga telah membentuk Kelompok Kerja (Pokja) khusus.
“Wagub menyampaikan keinginannya berkantor di Kota Tua untuk mengawasi langsung proses revitalisasi. Ia juga telah membentuk kelompok kerja guna memastikan koordinasi berjalan optimal,” tambah Denny.
Aksesibilitas dan Target Wisata Global
Revitalisasi ini juga dirancang untuk menjadikan Kota Tua sebagai destinasi wisata yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat. Dengan integrasi transportasi publik seperti KRL Commuter Line dan proyek MRT Jakarta yang terus dikembangkan, akses menuju kawasan bersejarah tersebut diyakini akan semakin mudah dan terjangkau.
Selain menjadi objek wisata unggulan, revitalisasi Kota Tua juga membawa misi besar mengembalikan identitas asli Jakarta sebagai kota bersejarah. Pemprov DKI Jakarta ingin membuktikan bahwa modernisasi dan status kota global dapat berjalan seiring dengan pelestarian nilai sejarah dan budaya.
Fokus Utama Revitalisasi 2026:
- Sentralisasi komando: Wakil Gubernur berkantor di lokasi revitalisasi.
- Zonasi kawasan: Pembagian zona inti, pengembangan, dan penunjang.
- Fasilitas publik: Pembangunan area parkir dan penataan PKL yang lebih tertib dan manusiawi.
- Integrasi transportasi: Konektivitas penuh dengan KRL dan MRT Jakarta.