JAKARTA – Taekwondo Indonesia menghadapi penantian panjang menuju panggung Olimpiade. Selama lebih dari 20 tahun, Merah Putih belum kembali mengirim atlet ke arena taekwondo Olimpiade sejak terakhir tampil pada Athena 2004, situasi yang kini menjadi tantangan besar bagi PB Taekwondo Indonesia menatap Los Angeles 2028.
Momentum itu kembali menjadi sorotan bertepatan dengan ulang tahun ke-57 Ketua Umum PB Taekwondo Indonesia (PBTI), Letjen TNI Richard Tampubolon, pada 24 Mei 2026. Di tengah perjalanan kepemimpinannya, harapan besar kini diarahkan pada upaya mengakhiri penantian panjang taekwondo Indonesia menuju Olimpiade Los Angeles 2028.
Sejak resmi dipertandingkan dalam Olimpiade tahun 2000, Indonesia belum pernah menembus perebutan medali di cabang taekwondo. Padahal, olahraga bela diri asal Korea Selatan tersebut memiliki basis pembinaan yang cukup besar di Tanah Air dengan ribuan dojang dan regenerasi atlet yang terus berjalan.
Indonesia sebenarnya pernah menunjukkan potensi di level internasional. Pada Olimpiade Barcelona 1992, ketika taekwondo masih berstatus cabang ekshibisi, kontingen Indonesia sukses membawa pulang tiga medali perak dan satu perunggu melalui Dirc Richard Talumewo, Rahmi Kurnia, Susilawati, serta Yefi Triaji.
Harapan kembali muncul saat Juana Wangsa Putri tampil pada Olimpiade Sydney 2000. Empat tahun berselang, Juana kembali lolos ke Olimpiade Athena 2004 bersama Satrio Rahadani. Namun setelah itu, langkah taekwondo Indonesia di Olimpiade terhenti.
Selama 20 tahun terakhir, pergantian kepengurusan dan program pembinaan belum mampu membawa Indonesia kembali ke jalur kualifikasi Olimpiade. Situasi tersebut menjadi tantangan besar bagi kepemimpinan Richard Tampubolon yang terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum PBTI periode 2023-2027.
Saat pelantikannya, target untuk membangun taekwondo Indonesia agar mampu bersaing di level Olimpiade disampaikan secara terbuka. Harapan itu kini menjadi pekerjaan rumah utama organisasi.
Richard Tampubolon sebelumnya juga menegaskan pentingnya proses pembinaan jangka panjang bagi atlet nasional. Dalam acara buka puasa bersama PBTI di Jakarta pada 15 Maret 2026, ia mengingatkan para atlet untuk menjaga konsistensi latihan demi meraih prestasi internasional.
“Untuk itu, para atlet jaga diri baik-baik, semua berproses, tetap kerja keras dan latihan dengan sungguh-sungguh agar meraih prestasi yang gemilang,” ujar Richard.
Menurutnya, tantangan taekwondo Indonesia tidak hanya soal regenerasi atlet, tetapi juga konsistensi prestasi di level dunia. Persaingan di kawasan Asia dinilai semakin ketat dengan dominasi negara-negara kuat seperti Korea Selatan, Iran, China, Thailand, Taiwan, hingga Uzbekistan.
Richard juga mengakui masih ada sejumlah pekerjaan besar yang harus dibenahi, termasuk optimalisasi pelatnas dan strategi menuju Olimpiade Los Angeles 2028.
“Kita masih menghadapi tantangan, seperti konsistensi prestasi atlet di tingkat internasional dan optimalisasi pelatnas. Rakernas 2025 adalah momentum untuk memperkuat kolaborasi dan menyusun strategi terukur,” katanya saat membuka Rakernas PBTI 2025 pada 17 Februari 2025.
PBTI kini mulai menggulirkan program Road to Olympic menuju Los Angeles 2028. Fokus pembinaan diarahkan pada peningkatan kualitas pelatih, penguatan sport science, hingga penambahan jam terbang atlet di kompetisi internasional.
Keberhasilan Thailand melalui atlet Panipak Wongpattanakit yang mampu meraih dua gelar juara Olimpiade menjadi contoh bagaimana sistem pembinaan jangka panjang dapat menghasilkan prestasi dunia.
Bagi taekwondo Indonesia, ukuran keberhasilan ke depan tidak lagi hanya soal banyaknya kejuaraan nasional atau jumlah pengurus daerah. Target utama adalah mengembalikan Merah Putih ke arena Olimpiade dan mampu bersaing di level tertinggi.
Richard Tampubolon pun menegaskan komitmennya membangun prestasi taekwondo Indonesia agar kembali diperhitungkan dunia.
“Kami berkomitmen menjadikan taekwondo Indonesia lebih inklusif, berprestasi, dan dihormati di dunia,” ujar Richard dalam Rakernas PBTI 2025.
Kini, publik menanti apakah kepemimpinan Richard Tampubolon mampu mengakhiri puasa panjang Olimpiade yang dialami taekwondo Indonesia sejak Athena 2004. Los Angeles 2028 menjadi target sekaligus pembuktian bagi masa depan cabang olahraga tersebut.