JAKARTA – Jakarta saat ini dikenal memiliki berbagai fasilitas transportasi modern, mulai dari jalan tol, MRT, hingga bandar udara berskala internasional. Namun jauh sebelum Indonesia merdeka dan sebelum hadirnya Bandara Soekarno-Hatta, terdapat satu bandara yang menjadi gerbang utama lalu lintas udara di tanah air, yakni Bandara Kemayoran. Nama bandara ini bukan sekadar bagian dari sejarah Jakarta, tetapi juga menjadi saksi lahirnya era penerbangan modern di Indonesia.
Tanggal 6 Juli menjadi salah satu momen penting dalam catatan sejarah penerbangan nasional. Pada hari tersebut di tahun 1940, Bandara Kemayoran mulai menjalankan operasionalnya pada masa Pemerintah Hindia Belanda. Meski peresmian resminya dilakukan dua hari kemudian, aktivitas penerbangan sebenarnya telah dimulai sejak tanggal tersebut.
Bandara Kemayoran dibangun sejak tahun 1934 oleh pemerintah kolonial Belanda. Proses pembangunan memerlukan waktu sekitar enam tahun hingga akhirnya fasilitas tersebut siap digunakan. Kehadiran bandara ini merupakan bagian dari pengembangan transportasi udara yang saat itu mulai berkembang pesat di berbagai wilayah dunia. Hindia Belanda memandang jalur udara sebagai sarana penting untuk mendukung konektivitas antardaerah sekaligus memperkuat hubungan dengan negara-negara lain.
Pada masa itu, Batavia atau Jakarta menjadi pusat pemerintahan dan aktivitas ekonomi kolonial. Karena itu, pembangunan fasilitas penerbangan modern dianggap penting untuk menunjang mobilitas pemerintahan, perdagangan, dan transportasi internasional. Lokasi Kemayoran dipilih karena dianggap strategis dan memiliki area yang cukup luas untuk pembangunan landasan pacu serta fasilitas pendukung lainnya.
Momen bersejarah terjadi pada 6 Juli 1940 ketika pesawat DC-3 Dakota milik perusahaan penerbangan Hindia Belanda, Koninklijke Nederlands Indische Luchtvaart Maatschappij (KNILM), mendarat di Bandara Kemayoran. Pesawat tersebut terbang dari Lapangan Udara Tjililitan yang kini dikenal sebagai kawasan Bandara Halim Perdanakusuma. Pendaratan tersebut menjadi simbol dimulainya aktivitas operasional Bandara Kemayoran.
Setelah penerbangan perdana itu berlangsung, sehari kemudian pesawat serupa melakukan perjalanan internasional menuju Australia. Peristiwa tersebut menjadi langkah awal Bandara Kemayoran sebagai penghubung Indonesia dengan dunia internasional. Dua hari setelah operasional dimulai, tepatnya 8 Juli 1940, bandara tersebut kemudian diresmikan secara resmi sebagai bandara internasional pertama di Indonesia.
Pada awal operasionalnya, Bandara Kemayoran memiliki dua landasan pacu yang saling bersilangan. Landasan pertama membentang dari utara ke selatan dengan panjang sekitar 2.475 meter dan lebar 45 meter. Sementara landasan kedua memiliki arah timur ke barat dengan panjang sekitar 1.850 meter dan lebar 30 meter. Ukuran tersebut tergolong cukup modern pada masanya dan mampu mendukung operasional pesawat-pesawat besar.
Selain berfungsi sebagai pusat penerbangan, Bandara Kemayoran juga mencatat berbagai peristiwa penting dalam sejarah penerbangan Indonesia. Salah satunya adalah penyelenggaraan pertunjukan udara atau airshow pertama di Asia pada 31 Agustus 1940. Acara tersebut diikuti oleh berbagai pesawat milik KNILM dan sejumlah pesawat pribadi dari komunitas penerbangan di Batavia. Kehadiran acara itu menunjukkan bahwa teknologi penerbangan saat itu mulai menjadi simbol kemajuan modernisasi.
Perjalanan Bandara Kemayoran juga mengalami dinamika akibat situasi politik dan perang dunia. Ketika Perang Asia Pasifik berlangsung, kawasan bandara menjadi salah satu titik strategis yang ikut terdampak konflik. Sejumlah pesawat mengalami serangan dan beberapa armada dipindahkan ke Australia demi keamanan operasional. Setelah Jepang mengambil alih wilayah Hindia Belanda pada 1942, fungsi bandara pun berubah mengikuti kebutuhan militer pada masa pendudukan.
Pasca kemerdekaan Indonesia, Bandara Kemayoran tetap menjadi pusat penerbangan nasional selama beberapa dekade. Bandara tersebut melayani berbagai penerbangan domestik maupun internasional dan menjadi pintu masuk utama ke Jakarta. Berbagai tokoh dunia, pejabat negara, hingga tamu kenegaraan pernah mendarat di tempat ini.
Namun seiring meningkatnya kebutuhan transportasi udara dan perkembangan kota Jakarta, kapasitas Bandara Kemayoran mulai dianggap tidak lagi memadai. Aktivitas penerbangan kemudian dipindahkan secara bertahap ke Bandara Soekarno-Hatta. Pada akhirnya, Bandara Kemayoran resmi berhenti beroperasi pada tahun 1985.
Kini, jejak bandara legendaris tersebut memang tidak lagi terlihat sebagai tempat pesawat lepas landas dan mendarat. Sebagian wilayah bekas bandara telah berubah menjadi kawasan permukiman, pusat bisnis, hingga area pameran. Meski demikian, nama Kemayoran tetap hidup sebagai bagian penting dari sejarah perjalanan penerbangan Indonesia.
Bandara Kemayoran bukan hanya sekadar lapangan terbang tua. Tempat ini merupakan saksi perkembangan teknologi, perubahan zaman, serta awal terbukanya jalur udara Indonesia menuju dunia internasional. Sejarah yang dimulai pada 6 Juli 1940 menjadi pengingat bahwa kemajuan transportasi udara Indonesia memiliki akar panjang yang dimulai sejak era Hindia Belanda. (MK)