JAKARTA – Pasukan militer Israel melancarkan serangan udara besar-besaran di wilayah Lebanon selatan pada malam hari yang memicu eskalasi konflik baru di kawasan perbatasan.
Militer Israel mengklaim operasi tersebut menargetkan sejumlah posisi strategis yang terkait dengan kelompok Hezbollah.
Laporan dari media pemerintah Lebanon menyebutkan sedikitnya 16 orang tewas akibat rentetan serangan tersebut.
Hezbollah melaporkan terjadinya pertempuran sengit di berbagai titik sebagai respons atas serangan Israel.
Pemerintah Israel menegaskan operasi militer masih terus berlangsung di wilayah tersebut.
Mengutip laporan AP News, Jumat (19/6/2026), Benjamin Netanyahu menyatakan pasukannya tidak akan ditarik dari Lebanon sebelum ancaman Hezbollah sepenuhnya hilang.
Netanyahu mengatakan, “Kami akan tetap mempertahankan zona keamanan hingga ancaman benar-benar netral.”
Konflik ini berpotensi mengganggu kesepakatan baru yang menyerukan penghentian operasi militer di seluruh front, termasuk Lebanon.
Kesepakatan tersebut juga menegaskan pentingnya menjaga integritas dan kedaulatan wilayah Lebanon di tengah eskalasi konflik.
Di sisi lain, pembicaraan antara Iran dan United States di Swiss harus ditunda akibat situasi yang memburuk.
Wakil Presiden AS JD Vance sebelumnya membatalkan kunjungan ke Swiss dengan alasan teknis dan kondisi geopolitik yang tidak stabil.
Laporan media regional menyebut Iran juga menunda pengiriman delegasi karena meningkatnya konflik di Lebanon.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menandatangani kesepakatan awal dengan Iran yang langsung berlaku saat diumumkan di Prancis.
Sementara itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron turut hadir dalam pertemuan yang menjadi latar kesepakatan awal tersebut.
Ketegangan yang terjadi di Lebanon kini menjadi ancaman serius bagi stabilitas diplomasi regional yang baru mulai terbentuk.***



