Jumlah korban tewas akibat serangan brutal yang dilakukan oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) terhadap para pekerja tambang tradisional kini bertambah menjadi 10 orang. Satgas Operasi Damai Cartenz 2026 mengonfirmasi bahwa insiden berdarah tersebut terjadi di kawasan pedalaman Distrik Awimbon, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan.
Hingga saat ini, aparat keamanan gabungan masih terus berpacu dengan waktu di tengah hutan lebat. Prioritas utama petugas adalah mengevakuasi jenazah korban, memburu kelompok pelaku, serta menyisir hutan untuk menyelamatkan para pendulang yang dilaporkan berhasil meloloskan diri.
Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Irjen Pol Dr. Faizal Ramadhani, menegaskan bahwa seluruh jajarannya dikerahkan secara maksimal demi memastikan hukum ditegakkan dan situasi keamanan di wilayah konflik tetap terkendali.
“Fokus utama kami saat ini adalah menyelamatkan korban selamat yang masih bertahan hidup, mengevakuasi para korban yang meninggal dunia, serta melakukan pengejaran terhadap kelompok pelaku secara profesional dan terukur,” tegas Faizal dalam keterangan resminya, Jumat (22/5/2026).
Jumlah Korban Berpotensi Bertambah, Pekerja Sembunyi di Hutan
Berdasarkan rilis resmi dari Satgas Humas Ops Damai Cartenz, angka kematian dalam tragedi ini masih bersifat sementara dan berpotensi meningkat. Hal ini dikarenakan beberapa pekerja tambang dilaporkan masih terpencar dan bersembunyi di dalam lebatnya hutan sekitar lokasi kejadian untuk menyelamatkan diri dari kejaran kelompok bersenjata.
Dari hasil investigasi awal dan analisis digital terhadap rekaman video yang beredar, dalang di balik aksi keji ini diduga kuat merupakan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Batalyon Yamue. Kelompok radikal ini dipimpin oleh Ronald Hiluka alias Dejang Hiluka. Saat melancarkan aksinya, kelompok yang diperkirakan berjumlah 15 orang tersebut membawa persenjataan militer, termasuk satu pucuk senapan serbu jenis AR-15 serta beberapa senjata api rakitan.
Medan Berat: Evakuasi Terpaksa ‘Babat Hutan’
Secara administratif, lokasi pembantaian berada di wilayah Pegunungan Bintang. Namun, karena kendala geografis, akses tercepat menuju titik kejadian justru harus dilalui melalui Tanah Merah, Kabupaten Boven Digoel.
Kondisi medan yang sangat ekstrem berupa hutan perawan dan tebing terjal memaksa tim evakuasi melakukan metode pembukaan jalur atau “babat hutan” secara manual demi bisa mencapai titik lokasi korban. Guna mempercepat mobilitas, Satgas Damai Cartenz berkolaborasi dengan Forkopimda Boven Digoel untuk mendirikan pos aju dan pusat evakuasi darurat di Tanah Merah dengan dukungan penuh dari personel gabungan TNI-Polri.