Gejolak ketegangan geopolitik yang membara di Timur Tengah akhirnya memukul telak sektor pariwisata super-mewah di Dubai. Hotel-hotel elit yang dulunya terkenal sangat selektif dan hanya menjadi tempat bermain para miliarder dunia, kini harus membuang ego mereka dan tidak lagi pilih-pilih tamu demi bisa bertahan hidup.
Sebut saja Palm Jumeirah, pulau buatan berbentuk pohon palem yang tersohor dengan kemegahannya. Siapa pun yang berlibur di sana sudah pasti masuk kategori kaum berduit karena tarif akomodasinya yang selangit. Namun belakangan, pulau impian ini mendadak lengang dari kepungan turis asing.
Seorang ekspatriat asal Libanon menceritakan pengalamannya. Selama lima tahun menetap di Dubai, baru kali ini ia akhirnya bisa mencicipi kemewahan berlibur di Palm Jumeirah karena harganya yang mendadak ramah kantong.
“Kemewahan di Dubai kini terjangkau bagi penduduk setempat. Sebelumnya, tempat ini hanya untuk orang kaya, atau orang yang sangat-sangat kaya,” ujarnya terheran-heran melihat situasi di lokasi, dilansir dari Japan Today, Rabu (10/6/2026).
Efek Domino Perang AS-Iran: Lantaran Sepi, Kamar Diskon 50%
Dengan catatan rata-rata 19,5 juta wisatawan per tahun, Dubai adalah magnet wisata terpopuler di kawasan Teluk. Dari 827 hotel yang berdiri kokoh di sana, 173 di antaranya berstatus bintang lima dengan tingkat hunian (occupancy rate) historis yang selalu bertengger di atas 80%.
Sayangnya, perang yang dipicu oleh konflik hebat antara Amerika Serikat dan Iran pada 28 Februari lalu sukses meremukkan citra glamor Dubai dalam sekejap. Meskipun gencatan senjata yang rapuh sudah diberlakukan sejak 8 April, arus kedatangan turis mancanegara belum juga pulih sepenuhnya.
Guna menyiasati keadaan, manajemen hotel di Palm Jumeirah mengubah strategi dengan membidik masyarakat lokal. Vila-vila mewah di atas air, laguna buatan, dan fasilitas premium kini diobral dengan diskon gila-gilaan hingga 50%.
Michael Robinson, Manajer Umum Anantara The Palm Dubai Resort, mengakui bahwa strategi banting harga ini cukup membuahkan hasil, meski menghadirkan tantangan pola menginap yang baru.
-
Akhir Pekan (Jumat-Sabtu): Tingkat hunian melonjak ke angka 70% hingga 90% berkat pasar staycation lokal.
-
Hari Kerja (Minggu-Kamis): Okupansi anjlok drastis, bertahan di angka kritis 20% hingga 30% saja.
-
Durasi Menginap: Turis lokal biasanya hanya menginap 1-2 malam, berbeda dengan turis internasional yang kerap memesan kamar minimal satu minggu penuh.
“Langkah (diskon) ini jauh lebih baik secara finansial daripada kami harus melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kepada karyawan,” ungkap Robinson bijak, meski ia cemas jika libur musim panas Juli mendatang tiba, warga lokal justru akan bepergian ke luar negeri.
Potong Gaji hingga Penutupan Sementara
Lesunya bisnis memaksa sejumlah ikon hotel mewah mengambil langkah ekstrem. Hotel legendaris sekelas Burj Al Arab bahkan memilih untuk tutup sementara waktu demi melakukan renovasi besar-besaran di tengah sepinya tamu. Hotel-hotel di pusat kota juga mulai beralih fokus mengincar sektor pariwisata bisnis (corporate travel).
Dampak bagi para pekerja pun tak terhindarkan. Seorang karyawan hotel di Dubai yang enggan disebutkan namanya mengaku gajinya sempat dipotong hingga 40% semasa perang berkecamuk, sebelum akhirnya berangsur normal dalam beberapa pekan terakhir. Nasib serupa dialami pekerja hotel di Abu Dhabi yang terpaksa dirumahkan tanpa dibayar selama dua bulan, meski kini bersiap dipanggil kembali bekerja.
Meskipun perundingan damai berjalan alot selama dua bulan terakhir dan serangan sporadis masih sesekali membayangi wilayah Teluk, Robinson tetap memelihara optimisme bahwa industri ini akan segera bangkit.
“Jika kita melihat adanya solusi nyata dalam satu atau dua bulan ke depan, saya rasa wisatawan internasional akan kembali berdatangan lebih cepat dari yang diperkirakan semua orang,” pungkasnya optimis.