Petaka dahsyat menimpa kawasan pegunungan Himalaya di perbatasan Nepal dan Tibet (Tiongkok). Runtuhnya struktur gletser raksasa secara tiba-tiba memicu banjir bandang berskala apokaliptik. Bencana ini telah menewaskan sedikitnya 165 orang dan menyebabkan lebih dari 1.000 orang hilang.
Otoritas Nepal melaporkan 826 orang hilang, termasuk 579 wisatawan mancanegara dari berbagai negara seperti India, Amerika Serikat, Australia, Inggris, hingga Kanada. Sementara itu, media pemerintah Tiongkok mengonfirmasi 558 orang hilang di Kabupaten Gyirong, Tibet.
Kronologi Kejadian: Guncangan Setara Gempa M 5,2
Bencana bermula pada Rabu pukul 08.37 waktu setempat. Potongan gletser berukuran amat masif di Taman Nasional Langtang—sekitar 60 kilometer utara ibu kota Kathmandu—terlepas dan jatuh menghempas dasar lembah.
Dahsyatnya hempasan es dan batuan tersebut menghasilkan gelombang seismik yang awalnya dikira gempa bumi M 4,4. Namun, Survei Geologi AS (USGS) kemudian mengonfirmasi bahwa guncangan tersebut murni akibat runtuhnya gletser yang kekuatannya setara dengan gempa bermagnitudo 5,2.
Luruhnya gletser melepaskan miliaran kubik air, lumpur, serta batuan yang meluncur deras melintasi aliran Sungai Lhende Khola, Bhote Koshi, hingga Sungai Trishuli. Air bah berkecepatan tinggi itu menerjang kawasan pemukiman, titik kunjungan wisatawan pendakian, serta rute peziarah menuju Gunung Kailash di Tibet.
“Lumpur dan air yang bergerak dengan kecepatan sangat tinggi membentuk kombinasi mematikan seperti ‘beton cair’ yang mustahil untuk dihindari,” jelas Hatim Sharif, ahli hidrologi dari University of Texas San Antonio.
Kisah Pilu Penyintas: Bertahan di Pohon Mangga hingga Kehilangan Orang Tercinta
Video yang beredar memperlihatkan detik-detik mengerikan saat gelombang air bah menghantam pos perbatasan Gyirong. Bangunan multi-lantai tenggelam dalam hitungan detik, deretan bus hanyut, dan jembatan utama Sungai Trishuli ambruk tersapu arus bak tsunami.
Di tengah kehancuran tersebut, tersisa kisah-kisah pilu para penyintas:
-
Keshav Prasad Baral (68 tahun): Bertahan hidup dari balik perawatan rumah sakit, ia mengenang momen tragis saat banjir menerjang rumahnya.
“Lumpur pekat itu datang lurus ke arah kami dan semakin tinggi. Saya berusaha memegang tangan istri saya untuk lari ke lantai atas, tetapi dia tersapu oleh air bah. Empat jam kemudian helikopter menyelamatkan saya… Istri saya masih tertimbun lumpur di sana,” tuturnya pilu.
-
Bibek Kumal (Pekerja Lokal): Selamat secara ajaib setelah terlempar ke arus sungai dan tersangkut di dahan pohon mangga.
“Air datang bergulung-gulung seperti gempa. Saya hanyut terbawa lumpur, tapi beruntung tersangkut di pohon mangga. Jika tidak ada pohon itu, saya pasti sudah tewas terbawa arus,” ungkapnya dari Trauma Center Kathmandu.
Misi Kemanusiaan Terhalang Lumpur dan Isu Perubahan Iklim
Upaya penyelamatan berjalan sangat rumit lantaran kerusakan infrastruktur yang parah dan tingginya genangan air. Helikopter penyelamat kesulitan mendarat di area-area krisis seperti Syapru Besi dan Timure di wilayah Rasuwa. Petugas SAR terpaksa menerobos lumpur pekat untuk mencari korban selamat di bangunan-bangunan yang tertimbun.
Para ilmuwan mencatat bahwa insiden ini merupakan peringatan keras atas ancaman nyata perubahan iklim. Peneliti di Kathmandu menemukan bahwa laju pelelehan gletser di kawasan Hindu Kush Himalaya telah meningkat dua kali lipat sejak tahun 2000, yang secara signifikan meningkatkan risiko bencana banjir bandang dan longsor di kawasan pegunungan tersebut.



