JAKARTA – Diskusi antara Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman dan mahasiswa Universitas Brawijaya, Malang, berkembang menjadi forum kritik kebijakan yang menyoroti isu strategis nasional, mulai dari krisis iklim, ketahanan pangan, regenerasi petani, hingga efektivitas Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
- Mahasiswa Soroti Ancaman Krisis Iklim terhadap Ketahanan Pangan
- Pemerintah Dorong Ekonomi Restoratif
- Regenerasi Petani Dinilai Jadi Titik Lemah Swasembada Pangan
- Dudung Luruskan Perbedaan Swasembada Pangan dan Swasembada Beras
- Dudung Ungkap MBG Akan Dievaluasi Total
- Tiga Fokus Perbaikan Program MBG
- Mahasiswa Akan Dilibatkan dalam Pengawasan
Dalam forum tersebut, Dudung tidak hanya menerima kritik, tetapi juga mengakui sejumlah tantangan yang masih dihadapi pemerintah. Bahkan, ia mengungkapkan bahwa evaluasi menyeluruh terhadap program MBG tengah disiapkan menyusul berbagai temuan di lapangan.
Pertemuan itu memperlihatkan bagaimana kalangan akademisi muda mulai menggeser diskursus publik dari persoalan teknis menuju pembahasan yang lebih mendasar, yakni mengenai masa depan sistem pangan nasional dan kesiapan Indonesia menghadapi target Indonesia Emas 2045.
Mahasiswa Soroti Ancaman Krisis Iklim terhadap Ketahanan Pangan
Mahasiswa Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya, Aldian Adam Faris, membuka diskusi dengan mengangkat persoalan yang dinilainya menjadi ancaman serius bagi sektor pertanian Indonesia.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi dunia saat ini tidak lagi sebatas perubahan iklim, tetapi telah berkembang menjadi krisis iklim yang berdampak langsung terhadap kualitas tanah, produktivitas lahan, dan keberlanjutan sistem pangan.
Aldian menilai pemerintah perlu mempercepat transformasi ekonomi dari pola pembangunan yang selama ini bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam menuju pendekatan yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Ia juga menyoroti pentingnya diversifikasi pangan berbasis potensi lokal serta pelibatan masyarakat adat dalam menjaga keseimbangan ekologi.
“Apakah saat ini pemerintah telah memiliki program-program yang mengarah pada transformasi tersebut, yaitu mengurangi ketergantungan pada pola ekonomi ekstraktif menuju pembangunan yang lebih berkelanjutan, sehingga lingkungan tetap terjaga dan produktivitas pertanian juga dapat terus ditingkatkan?” tanya Aldian.
Pertanyaan tersebut menyoroti dilema besar yang dihadapi Indonesia, yakni bagaimana menjaga pertumbuhan ekonomi tanpa mengorbankan daya dukung lingkungan yang menjadi fondasi utama ketahanan pangan nasional.
Pemerintah Dorong Ekonomi Restoratif
Menanggapi hal itu, Dudung menyatakan sependapat dengan pandangan yang disampaikan mahasiswa tersebut.
Ia menegaskan bahwa pemerintah mulai mengarahkan kebijakan pembangunan menuju pendekatan ekonomi restoratif yang tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
“Pendekatan ekonomi restoratif dan pembangunan berbasis lingkungan harus ditingkatkan. Jika tidak, persoalan ekologis akan berbalik menjadi hambatan mutlak bagi ketahanan pangan kita di masa depan,” ujar Dudung.
Menurutnya, sejumlah kementerian saat ini sedang menjalankan berbagai program adaptasi iklim yang berfokus pada penguatan manajemen sumber daya air, pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi, serta pengelolaan sumber daya alam yang memperhatikan keberlanjutan jangka panjang.
Langkah tersebut dinilai penting karena sektor pertanian menjadi salah satu bidang yang paling rentan terhadap dampak perubahan pola cuaca, kekeringan, dan penurunan kualitas lingkungan.
Regenerasi Petani Dinilai Jadi Titik Lemah Swasembada Pangan
Diskusi kemudian berlanjut pada isu regenerasi petani yang dinilai menjadi salah satu tantangan terbesar menuju swasembada pangan.
Mahasiswa lainnya, Naufal Syahfahlevie Samosir, mempertanyakan kesiapan Indonesia mencapai target ketahanan pangan jangka panjang apabila persoalan regenerasi sumber daya manusia di sektor pertanian tidak segera ditangani.
Menurutnya, membangun petani yang mandiri, adaptif terhadap teknologi, dan memiliki daya tahan menghadapi perubahan zaman bukanlah proses yang instan.
Ia menilai dibutuhkan waktu sekitar satu dekade untuk melahirkan petani berkualitas yang mampu menopang ketahanan pangan nasional.
“Tanpa regenerasi petani yang kuat, cita-cita swasembada pangan yang berkelanjutan akan menghadapi tantangan yang besar di masa depan,” kata Naufal.
Pandangan tersebut menggarisbawahi fakta bahwa pembangunan pertanian tidak hanya berbicara mengenai infrastruktur, alat mesin pertanian, atau perluasan lahan, melainkan juga menyangkut keberlangsungan sumber daya manusia yang mengelola sektor tersebut.
Dudung Luruskan Perbedaan Swasembada Pangan dan Swasembada Beras
Merespons kritik tersebut, Dudung menjelaskan bahwa masih terdapat kesalahpahaman di ruang publik terkait konsep swasembada pangan.
Ia menegaskan bahwa swasembada pangan memiliki cakupan yang jauh lebih luas dibanding swasembada beras.
Menurutnya, swasembada pangan berarti kemampuan bangsa memenuhi kebutuhan seluruh komoditas pangan strategis tanpa ketergantungan tinggi terhadap impor. Sementara swasembada beras lebih berfokus pada pemenuhan kebutuhan karbohidrat utama masyarakat.
Dudung juga menjelaskan bahwa stok beras yang tersimpan di gudang Bulog tidak bisa dijadikan satu-satunya indikator keberhasilan swasembada.
Cadangan tersebut berfungsi sebagai instrumen stabilisasi dan intervensi negara ketika terjadi gangguan pasokan maupun gejolak harga di pasar.
Terkait regenerasi petani, Dudung mengakui bahwa mayoritas petani Indonesia saat ini berusia di atas 40 tahun. Karena itu, modernisasi pertanian menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya tarik sektor tersebut bagi generasi muda.
Pemanfaatan teknologi digital, mekanisasi pertanian, hingga inovasi berbasis kecerdasan buatan diyakini dapat mengubah citra profesi petani yang selama ini dianggap kurang menjanjikan.
Dudung Ungkap MBG Akan Dievaluasi Total
Salah satu bagian paling menarik dalam dialog tersebut muncul ketika pembahasan mengarah pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Dudung mengungkapkan bahwa pemerintah sedang menyiapkan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program tersebut.
Ia mengakui adanya sejumlah temuan di lapangan yang menunjukkan perbedaan kualitas implementasi antarwilayah.
Beberapa daerah dinilai telah menjalankan program dengan baik, sementara di daerah lain masih ditemukan berbagai kendala, termasuk makanan yang tidak habis dikonsumsi oleh penerima manfaat.
“Hal-hal seperti ini akan ditata ulang agar program benar-benar mencapai tujuannya, yaitu memastikan penerima manfaat memperoleh makanan yang bergizi, layak, dan benar-benar dikonsumsi,” tegas Dudung.
Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa pemerintah tidak hanya berfokus pada distribusi makanan, tetapi juga efektivitas manfaat yang diterima masyarakat.
Tiga Fokus Perbaikan Program MBG
Dalam proses evaluasi tersebut, pemerintah disebut telah menyiapkan tiga fokus utama pembenahan program.
Pertama, standardisasi kualitas dan kandungan gizi menu agar penerima manfaat memperoleh asupan yang sesuai kebutuhan.
Kedua, peningkatan kualitas dan kelayakan bahan pangan yang digunakan dalam penyediaan makanan.
Ketiga, penyempurnaan ketepatan sasaran program dengan memberikan prioritas kepada wilayah yang memiliki tingkat kerentanan gizi tinggi serta kawasan Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).
Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan efektivitas program sekaligus memperkuat dampaknya terhadap upaya penurunan stunting dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Mahasiswa Akan Dilibatkan dalam Pengawasan
Sebagai tindak lanjut dari berbagai masukan yang disampaikan mahasiswa, Dudung memastikan pemerintah akan membuka ruang kolaborasi yang lebih besar dengan perguruan tinggi.
Mahasiswa dan akademisi direncanakan dilibatkan secara resmi dalam pengawasan distribusi logistik serta edukasi gizi di lapangan.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat transparansi, akuntabilitas, dan efektivitas program-program pemerintah yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Dialog antara KSP dan mahasiswa Universitas Brawijaya itu menunjukkan bahwa isu ketahanan pangan, krisis iklim, dan kualitas sumber daya manusia kini menjadi perhatian serius generasi muda. Kritik yang muncul tidak lagi sekadar mempertanyakan hasil akhir kebijakan, tetapi juga menguji fondasi jangka panjang pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.