JAKARTA – Seabad setelah kelahirannya, Marilyn Monroe — lahir dengan nama Norma Jeane — tetap menjadi simbol glamor Hollywood dan ikon budaya Amerika. Meski meninggal tragis pada 1962 pada usia 36 tahun, pesonanya terus hidup melalui film, musik, dan karya seni yang menjadikannya legenda.
Dilansir Variety, Selasa (2/6/2026), film My Week With Marilyn (2011) menampilkan Monroe di ujung kariernya, digambarkan sebagai sosok rapuh yang berjuang di balik layar. Sebaliknya, Blonde (2022) menghadirkan Monroe sebagai bintang penuh energi, meski dibayangi rasa tidak aman dan perlakuan diskriminatif industri. Ana de Armas, pemeran utama, mengaku, “Menggunakan emosi saya — bagaimana perasaan saya tentang memainkan peran itu — adalah cara saya mendekati seluruh film, merangkul ketakutan dan kerentanan saya.”
Penghormatan terhadap Monroe juga hadir dalam lagu Elton John Candle in the Wind (1973), yang menyebutnya sebagai “Norma Jeane” dan menegaskan bahwa meski cahayanya padam, ia akan selalu dikenang. Lagu ini kemudian ditulis ulang untuk Putri Diana, ikon lain yang meninggal di usia sama.
Monroe dikenal bukan hanya karena sensualitasnya, tetapi juga kecerdasannya dalam menyeimbangkan kehangatan dan humor di layar. Adegan ikonik dalam The Seven Year Itch (1955), ketika gaunnya tertiup angin di atas ventilasi kereta bawah tanah, menjadi simbol budaya pop yang bertahan lebih dari tujuh dekade.
Meski sering dicap sebagai “pirang bodoh,” Monroe justru menumbangkan stereotip itu lewat peran-peran cerdas di film seperti Gentlemen Prefer Blondes dan How to Marry a Millionaire. Ia juga mendalami metode akting bersama Lee Strasberg, menunjukkan ambisi serius di balik citra glamornya.
Warisan Monroe bukan sekadar kisah tragis, melainkan perpaduan antara kecantikan, kesedihan, kecerdasan, dan seni akting yang membuatnya tak tergantikan. Seperti yang ia ungkapkan dalam Some Like It Hot, “Aku selalu mendapat ujung permen lolipop yang berbulu” — sebuah keluhan polos yang justru memperlihatkan kemanusiaannya.