BANDA ACEH – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membantu memenuhi kebutuhan makan siswa SLB-B YPAC Banda Aceh, terutama mereka yang kerap berangkat sekolah tanpa sarapan. Selain mendukung pemenuhan gizi, program ini juga meningkatkan antusiasme siswa sekaligus meringankan beban orang tua dalam menyediakan makanan bagi anak-anak mereka.
Perubahan itu terlihat dari kebiasaan para siswa yang kini kerap menanyakan menu makanan begitu tiba di sekolah. Pertanyaan sederhana seperti “Hari ini menunya apa, Bu?” menjadi gambaran antusiasme mereka menantikan hidangan yang disediakan melalui program MBG.
Guru Bahasa Indonesia tingkat SMP dan SMA SLB-B YPAC Banda Aceh, Nurhasanah, mengatakan kehadiran program tersebut membawa perubahan dibandingkan kondisi sebelum MBG berjalan. Sebelumnya, sebagian siswa hanya mengandalkan uang saku untuk membeli jajanan di kantin. Bahkan, ada pula yang datang ke sekolah tanpa membawa bekal maupun uang saku.
Menurut Nurhasanah, kondisi itu antara lain dialami siswa yang tinggal jauh dari sekolah, termasuk yang berasal dari wilayah Aceh Besar. Jarak perjalanan dan waktu keberangkatan membuat sebagian siswa tidak sempat sarapan sebelum mengikuti kegiatan belajar.
“Kadang-kadang rumahnya yang jauh, di Aceh Besar belum sarapan,” ujar Nurhasanah, yang telah mengajar di SLB-B YPAC Banda Aceh sejak 2013.
Dengan adanya MBG, siswa memiliki kesempatan untuk menikmati makanan saat berada di sekolah. Program ini pun menjadi dukungan bagi anak-anak yang membutuhkan asupan makanan selama menjalani aktivitas belajar.
Bantu Penuhi Kebutuhan Gizi Siswa
Manfaat MBG juga dirasakan oleh keluarga siswa. Nurhasanah menjelaskan, sebagian besar murid di sekolah tersebut berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah. Karena itu, menyediakan makanan dengan menu beragam dan bergizi setiap hari bukan perkara mudah bagi sebagian orang tua.
Melalui program MBG, siswa dapat menikmati variasi hidangan, termasuk olahan daging dan buah-buahan. Kehadiran menu tersebut membantu memberikan pilihan makanan yang lebih beragam selama mereka berada di sekolah.
Antusiasme siswa juga terlihat dari respons mereka terhadap hidangan yang disajikan. Meski selera setiap anak berbeda dan sebagian masih enggan mengonsumsi sayuran hijau, menu yang disukai serta buah-buahan tetap mendapat sambutan positif.
Bagi para guru, perubahan tersebut menjadi salah satu hal yang terlihat sejak program MBG hadir di lingkungan sekolah. Siswa tidak hanya mendapatkan makanan, tetapi juga memiliki kesempatan membangun kebiasaan makan bersama dalam suasana yang menyenangkan.
Makan Bersama Jadi Sarana Pendidikan Karakter
Pelaksanaan MBG di SLB-B YPAC Banda Aceh juga dimanfaatkan sebagai bagian dari pembelajaran di luar kelas. Saat jam makan siang, siswa tingkat SMP dan SMA berkumpul di aula sekolah untuk menyantap hidangan bersama dengan pendampingan guru.
Dalam kegiatan tersebut, para pengajar membimbing siswa menerapkan adab makan yang baik. Mereka juga dibiasakan membaca doa sebelum dan sesudah makan sesuai ajaran Islam.
Selain mengenalkan tata cara makan, kegiatan bersama ini menjadi kesempatan bagi siswa untuk belajar mandiri dan disiplin. Interaksi selama makan bersama juga membantu membangun kedekatan antarsiswa maupun antara siswa dan guru.
Dengan demikian, kegiatan makan siang tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi juga menjadi bagian dari pembiasaan perilaku sehari-hari di lingkungan pendidikan.
Pendampingan guru selama kegiatan berlangsung turut memberikan ruang bagi siswa untuk mempraktikkan kebiasaan tersebut secara langsung. Hal ini menjadi bagian dari proses pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan para murid di SLB-B YPAC Banda Aceh.
Guru Berharap MBG Berlanjut dengan Kualitas Terjaga
Melihat manfaat yang dirasakan para siswa, Nurhasanah berharap program Makan Bergizi Gratis dapat terus berlanjut. Ia juga menekankan pentingnya menjaga kualitas makanan apabila program tersebut tetap dilaksanakan pada masa mendatang.
“Harapan kami ya untuk ke depan, apabila MBG dilanjutkan kualitas tetap dijaga, itu harapan kami,” katanya.
Nurhasanah turut menyampaikan apresiasi kepada pemerintah atas perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan gizi anak-anak berkebutuhan khusus.
Bagi para pendidik di SLB-B YPAC Banda Aceh, antusiasme siswa saat menyambut makanan menjadi salah satu perubahan yang dirasakan dalam kegiatan sehari-hari di sekolah. Mereka berharap manfaat program tersebut dapat terus dirasakan siswa, baik dalam pemenuhan kebutuhan makan maupun pembentukan kebiasaan positif selama mengikuti kegiatan belajar.

