JAKARTA – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan Indonesia tak boleh bergantung pada impor di tengah ancaman krisis pangan global. Dalam pertemuan bersama pemangku kepentingan sektor pertanian,
Ia menyoroti pentingnya inovasi teknologi dan diversifikasi tanaman sebagai strategi utama menghadapi dampak perubahan iklim dan konflik geopolitik yang mengganggu rantai pasok dunia.
Pertemuan yang digelar di Kementerian Pertanian itu membahas sejumlah isu krusial, mulai dari optimalisasi lahan garapan hingga peningkatan produktivitas petani melalui bantuan subsidi pupuk dan benih unggul.
Data terbaru dari Kementan mencatat bahwa produksi beras nasional tahun ini diproyeksikan mencapai 32 juta ton, naik 5% dari tahun sebelumnya, berkat program intensifikasi lahan rawa dan irigasi modern.
Namun, tantangan seperti banjir musiman dan kekeringan ekstrem masih menjadi penghalang utama yang memerlukan solusi terintegrasi.
Mentan Amran menekankan pendekatan holistik dalam menghadapi krisis pangan global, yang dipicu oleh perang dagang dan gangguan rantai pasok internasional.
“Kita tidak boleh bergantung sepenuhnya pada impor; swasembada pangan adalah prioritas utama. Program ini akan melibatkan 1 juta petani milenial melalui pelatihan digital farming untuk meningkatkan efisiensi hingga 20%,” ujarnya dalam kesempatan tersebut.
Selain itu, pemerintah berencana memperluas ekspor produk hortikultura seperti cabai dan tomat ke pasar ASEAN, dengan target peningkatan nilai ekspor sebesar 15% pada 2026.
Langkah ini diharapkan tidak hanya menstabilkan harga domestik, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi petani kecil di daerah pedesaan. Pakar agronomi dari IPB University, Dr. Rina Susanti, menambahkan bahwa integrasi teknologi drone untuk pemantauan tanaman bisa menjadi game changer. “Dengan ini, deteksi hama dini bisa dilakukan secara real-time, mengurangi kerugian panen hingga 30%,” katanya.
Inisiatif ini sejalan dengan arahan Presiden untuk mempercepat transformasi pertanian berkelanjutan, termasuk pengembangan varietas tahan iklim yang ramah lingkungan. Para stakeholder yang hadir, termasuk perwakilan Gabungan Persaudaraan Petani Indonesia (Gapindo), menyambut baik rencana tersebut dan meminta percepatan distribusi alat pertanian modern ke wilayah timur Indonesia.
Krisis pangan global, yang diprediksi oleh FAO akan berlanjut hingga 2027, menuntut respons cepat dari Indonesia sebagai negara agraris terbesar di Asia Tenggara. Dengan strategi ini, Kementan optimis bisa menjaga inflasi pangan di bawah 4% sepanjang tahun depan.
Masyarakat diimbau untuk mendukung program ketahanan pangan melalui konsumsi produk lokal dan partisipasi dalam gerakan tanam kembali.