JAKARTA – Indonesia secara resmi menduduki posisi teratas sebagai negara dengan persentase pengguna rokok elektrik (vape) tertinggi di dunia berdasarkan survei global terbaru. Data yang dirilis Statista pada Februari 2024 menunjukkan bahwa 32% orang dewasa di Indonesia pernah atau sedang menggunakan vape dan ini adalah angka tertinggi di antara 56 negara yang disurvei.
Berikut adalah peringkat 10 besar negara dengan persentase pengguna vape tertinggi beserta penjelasan singkat mengapa tren ini patut menjadi perhatian:
1. Indonesia – 32%
Indonesia menjadi pemuncak daftar dengan 32% orang dewasa yang pernah atau sedang menggunakan vape. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain dalam survei yang sama. Popularitas vape di Indonesia terutama terlihat di kalangan anak muda perkotaan, didorong oleh variasi rasa, harga yang relatif terjangkau, serta gencarnya promosi di media sosial.
2. Yunani – 31%
Yunani berada di posisi kedua dengan selisih sangat tipis, yaitu 31%. Negara ini dikenal memiliki budaya merokok yang kuat secara historis, dan vape tampaknya menjadi pengganti yang populer di kalangan generasi muda.
3. Uni Emirat Arab – 30%
Uni Emirat Arab (terutama Dubai dan Abu Dhabi) mencatat 30% pengguna vape. Budaya shisha yang sudah mendarah daging di kawasan Teluk turut mendorong penerimaan terhadap produk nikotin alternatif seperti vape.
4. Selandia Baru – 28%
Selandia Baru menempati peringkat keempat dengan 28%. Negara ini sempat memiliki regulasi vape yang sangat longgar dan dianggap sebagai salah satu pasar vape terbesar per kapita di dunia sebelum pemerintah mulai memperketat aturan pada 2023–2024.
5. Arab Saudi – 28%
Arab Saudi juga berada di angka 28%, sama dengan Selandia Baru. Meskipun negara ini memiliki larangan ketat terhadap rokok konvensional di banyak tempat umum, vape justru berkembang pesat di kalangan pria muda.
6. Polandia – 26%
Polandia mencatat 26% pengguna vape. Negara Eropa Timur ini termasuk salah satu pasar vape terbesar di kawasan Eropa, didukung oleh harga yang kompetitif dan banyaknya toko vape lokal.
7. Republik Ceko – 26%
Republik Ceko juga berada di angka 26%. Sama seperti Polandia, negara ini memiliki tradisi merokok yang tinggi dan vape dianggap sebagai alternatif yang lebih “modern” oleh sebagian besar perokok.
8. Italia – 25%
Italia menempati posisi kedelapan dengan 25%. Meskipun Italia memiliki regulasi yang cukup ketat terhadap produk tembakau, vape tetap populer terutama di kalangan pria usia 18-35 tahun.
9. Inggris Raya – 25%
Inggris Raya mencatat angka yang sama, 25%. Negara ini dikenal sebagai salah satu pionir dalam kebijakan “harm reduction” yang mendorong perokok beralih ke vape. Pemerintah Inggris bahkan secara resmi merekomendasikan vape sebagai alat bantu berhenti merokok.
10. Rumania – 24%
Rumania menutup daftar 10 besar dengan 24%. Negara Eropa Timur ini menunjukkan tren serupa dengan Polandia dan Ceko, di mana vape menjadi pilihan populer di kalangan perokok muda.
Apa artinya angka-angka ini?
Data ini sekaligus menjadi alarm keras bagi Indonesia yang kini secara resmi memimpin daftar negara dengan persentase pengguna vape tertinggi di dunia. Angka 32% bukan sekadar statistik, melainkan cerminan betapa masifnya penetrasi rokok elektrik di tengah masyarakat, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda.
Meski banyak yang menganggap vape sebagai pilihan yang lebih aman dibanding rokok tembakau konvensional, penelitian kesehatan terbaru justru menunjukkan sisi gelapnya. Orang yang pernah menggunakan vape memiliki risiko gagal jantung 19% lebih tinggi dibandingkan yang tidak pernah sama sekali.
Indonesia berada di posisi yang sangat rentan. Di satu sisi, regulasi rokok elektrik masih belum sekomprehensif negara-negara maju. Di sisi lain, akses terhadap produk vape sangat mudah, mulai dari toko kelontong, marketplace online, hingga konten influencer yang terus mempromosikan berbagai rasa dan desain device terbaru. Belum lagi tren vape sebagai gaya hidup yang semakin menguat di media sosial, membuat generasi muda melihatnya sebagai sesuatu yang keren, bukan ancaman kesehatan. Kini saatnya semua pihak bergerak lebih serius.
Pemerintah perlu mempercepat penyusunan regulasi yang lebih ketat, termasuk pembatasan rasa yang menarik anak muda, larangan iklan terselubung, penegakan usia minimum yang konsisten, serta pengawasan terhadap produk ilegal yang sering mengandung zat berbahaya dalam kadar tinggi. Sekolah, keluarga, dan komunitas juga memiliki peran besar dalam memberikan edukasi yang jujur dan berbasis fakta, bukan sekadar mitos bahwa vape tidak berbahaya atau hanya uap air biasa.
Bagi individu, terutama yang belum pernah mencoba, pilihan paling bijak adalah tidak memulai sama sekali. Bagi perokok yang ingin berhenti, ada metode yang sudah terbukti efektif dan direkomendasikan tenaga medis, seperti konseling berhenti merokok, terapi pengganti nikotin yang terukur, serta dukungan psikologis, tanpa harus beralih ke produk yang ternyata juga membawa risiko kesehatan jangka panjang.
Indonesia tidak perlu menjadi juara dalam hal angka penyakit jantung, PPOK, atau gangguan kesehatan lain yang terkait vape. Peringkat pertama yang kita pegang saat ini seharusnya menjadi momentum untuk berubah, bukan kebanggaan. Kesehatan generasi sekarang dan mendatang jauh lebih berharga daripada tren sesaat yang bisa berakhir dengan tagihan rumah sakit di masa depan.nMari bersama-sama bijak memilih hidup sehat tanpa asap, tanpa uap, tanpa penyesalan.









