JAKARTA— Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menyuarakan keprihatinannya atas penemuan ratusan pucuk senjata, narkotika, hingga CD pornografi di sebuah sekolah swasta di kawasan Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Arifah meminta seluruh pihak memastikan keamanan psikologis para siswa serta menjaga privasi anak-anak di tengah proses hukum yang sedang berjalan.
Temuan mengejutkan tersebut berawal dari inventarisasi fasilitas sekolah di ruangan mantan ketua yayasan. Pada 10 dan 11 Juli lalu, pihak sekolah menemukan 995 pucuk senjata yang mencakup senjata api, amunisi, dan aksesori senjata. Penelusuran berlanjut pada Rabu (5/8) malam saat pembukaan ruangan lain, yang kembali membuahkan hasil berupa temuan senjata tambahan, barang haram narkoba, serta kaset CD bermuatan pornografi.
Merespons peristiwa ini, Kementerian PPPA menegaskan pentingnya menjaga hak-hak peserta didik agar tidak terdampak dari kasus hukum yang melibatkan lingkungan sekolah mereka.
“Kami prihatin atas temuan ini. Kami ingin sekolah dapat memastikan anak-anak tetap merasa aman belajar dan tidak terdampak, baik secara langsung maupun psikologis atas kasus yang terjadi di sekolah mereka,” ujar Arifah dalam keterangan resminya, Sabtu (8/8).
Ia juga mengimbau masyarakat dan media massa untuk tidak memberi stigma negatif kepada para siswa. Menurutnya, anak-anak harus dilindungi dari dampak persoalan yang bukan menjadi tanggung jawab mereka.
Apresiasi Langkah Yayasan dan Kepolisian
Dalam keterangannya, Arifah mengapresiasi kepekaan pihak yayasan yang langsung melaporkan temuan tersebut kepada aparat penegak hukum, serta respons cepat jajaran kepolisian dalam menindaklanjuti laporan masyarakat.
“Kami menghormati proses penyelidikan yang sedang berjalan dan menyerahkan pendalaman kasus ini kepada kepolisian. Kami tidak akan mendahului proses hukum. Namun, kepentingan terbaik bagi anak tetap menjadi prioritas,” tegas Arifah.
Guna mengantisipasi potensi bahaya laten di lingkungan pendidikan, Menteri PPPA mendesak pengelola sekolah untuk melakukan audit serta pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh ruangan dan fasilitas pendukung. Langkah pengawasan ketat perlu diperkuat demi menjamin lingkungan belajar yang steril dan kondusif bagi tumbuh kembang anak.
Dorong Penerapan Sekolah Ramah Anak dan Pendampingan Psikologis
Sebagai langkah pemulihan dan pencegahan, Kementerian PPPA mendorong pihak sekolah menerapkan sistem Satuan Pendidikan Ramah Anak (SRA). Selain itu, penyediaan layanan pendampingan psikososial diarahkan bagi peserta didik, tenaga pendidik, maupun orang tua murid yang membutuhkan.
Arifah menekankan bahwa sinergi antara pendidik, tenaga kependidikan, dan orang tua merupakan pilar utama dalam menciptakan iklim belajar yang aman dan ramah anak.
Untuk memastikan aspek perlindungan anak terpenuhi selama penanganan kasus, Kementerian PPPA menyatakan terus berkoordinasi secara aktif dengan jajaran Polda Metro Jaya/Polres Metro Jakarta Selatan, Dinas Pendidikan DKI Jakarta, serta Dinas PPPA DKI Jakarta.
Kronologi Penemuan Senjata dan Barang Terlarang
Kuasa hukum pihak sekolah, Hermawanto, menjelaskan kronologi penemuan benda-benda ilegal tersebut saat memberikan keterangan di Polres Metro Jakarta Selatan, Kamis (6/8). Penemuan berawal ketika pengelola sekolah hendak memanfaatkan kembali ruangan bekas ketua yayasan untuk kegiatan pembelajaran siswa.
“Pada tanggal 10 dan tanggal 11 bulan Juli, hampir satu bulan yang lalu, kami menemukan ada 995 pucuk senjata. Di dalamnya ada senjata api, termasuk ada amunisi dan juga beberapa aksesoris senjata yang lain,” ungkap Hermawanto.
Upaya sterilisasi fasilitas dilanjutkan pada Rabu (5/8) malam untuk pemenuhan kebutuhan ruang kerja guru. Pada momen inilah pengelola kembali mendapati sejumlah senjata beserta paket narkoba dan kaset CD pornografi yang tersimpan di dalam area sekolah. Saat ini, seluruh barang bukti telah diserahkan dan ditangani oleh kepolisian guna penyelidikan lebih lanjut.


