JAKARTA – Presiden AS Donald Trump menegaskan rencananya untuk merelokasi warga Gaza ke Yordania dan Mesir, meski mendapat penolakan keras dari kedua negara tersebut. Trump mengatakan AS akan terus membantu warga Gaza meski ada penolakan dari pemimpin Mesir dan Yordania.
“Kami melakukan banyak hal untuk mereka dan mereka akan melakukannya,” kata Trump saat memberikan keterangan pers di Gedung Putih pada Sabtu (1/2/2025), sebagaimana dikutip dari Al Jazeera.
Sebelumnya, Trump telah mengungkapkan proposal untuk merelokasi warga Gaza ke kedua negara Arab tersebut, dengan alasan situasi di Gaza yang semakin kacau. “Saya ingin Anda menampung lebih banyak lagi (warga Gaza) karena saya menyaksikan seluruh Jalur Gaza saat ini sangat kacau. Anda berbicara tentang sekitar 1,5 juta orang,” ungkap Trump. Presiden AS tersebut menambahkan bahwa relokasi ini bisa bersifat sementara atau bahkan jangka panjang.
Namun, penolakan keras datang dari pemerintah Mesir dan Yordania. Kementerian Luar Negeri Mesir pada 21 Januari menegaskan bahwa mereka tidak bisa menerima pemindahan warga Palestina dari Gaza ke negaranya, baik untuk sementara maupun jangka panjang. “Tidak bisa menerima segala pelanggaran hak (warga Palestina), baik melalui permukiman, pendudukan, atau pengusiran warga Palestina dari tanah mereka,” bunyi pernyataan Kemlu Mesir.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Yordania, Ayman Safadi, menanggapi proposal Trump dengan tegas, menyebut rencana tersebut sebagai upaya untuk “membersihkan Gaza” dan menegaskan bahwa Yordania akan tetap mempertahankan prinsipnya untuk mendukung eksistensi warga Palestina di tanah mereka. “Solusi untuk masalah Palestina terletak di Palestina. Yordania adalah untuk warga Yordania dan Palestina adalah untuk warga Palestina,” kata Safadi dalam pernyataannya.
Meskipun menolak rencana relokasi, Safadi menyatakan bahwa Yordania tetap berharap dapat melanjutkan kerja sama dengan AS untuk mencapai perdamaian di kawasan.
Penolakan dari Mesir dan Yordania ini menyoroti ketegangan yang terus berkembang di kawasan Timur Tengah, di mana upaya internasional untuk mencari solusi jangka panjang bagi masalah Palestina terus menemui jalan buntu.