JAKARTA – Moskow dan wilayah sekitarnya menjadi sasaran serangan drone besar-besaran yang disebut sebagai salah satu serangan terbesar terhadap ibu kota Rusia sejak perang dengan Ukraina dimulai pada 2022.
Wali Kota Moskow Sergey Sobyanin mengatakan sekitar 1.600 drone telah dicegat sejak Sabtu (19/9/2026).
Dari jumlah tersebut, sekitar 450 drone disebut diarahkan langsung menuju wilayah ibu kota Rusia. Klaim tersebut disampaikan setelah gelombang serangan terjadi bertepatan dengan hari terakhir pemungutan suara pemilu parlemen Rusia.
Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya dua orang. Sejumlah wilayah juga mengalami kerusakan, termasuk sebuah fasilitas pengolahan minyak yang dilaporkan terbakar setelah terkena serangan drone.
Gedung Hunian dan Kilang Minyak Rusak
Gubernur Wilayah Moskow Andrey Vorobyov mengatakan serangan menyebabkan kerusakan pada sejumlah infrastruktur sipil.
Salah satu insiden terjadi di Distrik Ramensky ketika drone yang jatuh memicu kebakaran di atap sebuah gedung apartemen 21 lantai.
Sekitar 400 orang kemudian dievakuasi dari bangunan tersebut. Sejumlah kendaraan juga dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan dan puing-puing drone.
Sebuah gedung apartemen di Sofyino juga dilaporkan terkena serangan. Otoritas Rusia menyebut satu orang tewas dan beberapa lainnya mengalami luka dalam insiden tersebut.
Selain bangunan hunian, Kilang Minyak Moskow turut mengalami kerusakan. Serangan tersebut memicu kebakaran dan menghasilkan kepulan asap hitam yang terlihat dari sejumlah lokasi.
Rusia Janji Tingkatkan Serangan ke Kyiv
Serangan tersebut langsung mendapat respons dari pemerintah Rusia. Kementerian Pertahanan Rusia menuduh Ukraina berupaya mengganggu proses pemilu parlemen yang sedang berlangsung.
Moskow kemudian menyatakan akan meningkatkan serangan terhadap sasaran militer di Kyiv sebagai respons atas serangan drone tersebut.
“Sebagai respons terhadap serangan rezim Kyiv terhadap target sipil di wilayah Rusia, tentara Rusia akan melanjutkan dan mengintensifkan serangan berpresisi tinggi terhadap target militer di Kyiv,” demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Rusia yang dikutip sejumlah media internasional.
Pemerintah Rusia menyebut serangan drone tersebut sebagai upaya untuk mengganggu proses pemungutan suara. Namun, Ukraina belum memberikan tanggapan langsung terhadap seluruh klaim Rusia mengenai serangan terbaru tersebut.
Zelensky Sebut Serangan Berdampak Besar
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky justru menyebut operasi drone jarak jauh tersebut memberikan dampak signifikan terhadap wilayah Moskow.
Zelensky mengatakan serangan menyasar fasilitas penting dalam industri minyak Rusia serta infrastruktur logistik. Menurutnya, fasilitas tersebut memiliki kaitan dengan kemampuan Rusia dalam mendukung operasi militernya.
Ukraina sebelumnya memang telah beberapa kali menggunakan drone jarak jauh untuk menyerang fasilitas energi, logistik, dan infrastruktur militer di wilayah Rusia.
Kyiv menyatakan serangan tersebut merupakan bagian dari respons terhadap serangan Rusia ke berbagai wilayah Ukraina.
Terjadi Saat Pemilu Parlemen Rusia
Serangan drone tersebut berlangsung pada hari terakhir pemilu parlemen Rusia yang digelar selama tiga hari.
Lebih dari 111 juta warga Rusia tercatat memiliki hak suara dalam pemilu tersebut. Sebanyak 450 kursi Duma Negara diperebutkan, dengan 225 kursi melalui daftar partai dan 225 kursi lainnya melalui daerah pemilihan beranggota tunggal.
Exit poll dari lembaga jajak pendapat milik negara Rusia menunjukkan Partai United Russia berada di posisi teratas dengan perolehan sekitar 49,4 persen suara.
Angka tersebut berada di kisaran hasil yang diperoleh partai tersebut dalam pemilu sebelumnya.
Serangan drone ke Moskow menambah ketegangan di tengah perang Rusia-Ukraina yang masih berlangsung.
Sementara Rusia telah menyatakan akan meningkatkan serangan ke Kyiv, jumlah kerusakan dan dampak sebenarnya dari serangan drone di Moskow masih sulit diverifikasi secara independen karena kondisi perang.***