Perang di Iran telah memicu “gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global,” namun bagi Norwegia, krisis ini justru menjadi mesin uang yang tak terhentikan. Maret 2026 mencatatkan rekor ekspor minyak mentah tertinggi dalam sejarah negara tersebut. Sejak konflik pecah pada akhir Februari, Norwegia diperkirakan telah mengantongi “bonus” pendapatan hingga $5 miliar (sekitar Rp80 triliun).
Selat Hormuz Terkunci, Brent Melambung
Lumpuhnya Selat Hormuz memaksa harga minyak mentah Brent terbang hingga melampaui $120 per barel. Di tengah kepanikan Eropa mencari sumber energi alternatif, Norwegia berdiri kokoh memasok 30% kebutuhan gas pipa Uni Eropa.
Raksasa energi Equinor mencatatkan lonjakan saham ke titik tertinggi dalam 52 minggu. Meski demikian, CEO Anders Opedal mengakui adanya tekanan besar: Norwegia sudah beroperasi pada kapasitas maksimum sejak krisis Rusia 2022. “Fokus kami adalah menjaga ritme ekspor ke Eropa, meski kami hampir tidak punya cadangan tambahan,” tegasnya.
Keuntungan besar juga dirasakan Vår Energi, produsen terbesar ketiga di Norwegia. Mereka melaporkan lonjakan produksi hingga 51% dibandingkan tahun lalu, dengan rata-rata 406.000 barel per hari. Saham perusahaan ini bahkan terbang hingga 93% dalam setahun terakhir, mencapai rekor tertinggi sepanjang masa pada akhir Maret lalu.
Paradoks Kemakmuran: Inflasi dan Dilema Eropa
Namun, kekayaan mendadak ini mendatangkan badai kritik. Para menteri energi Eropa mulai menyuarakan pembatasan keuntungan (windfall tax) bagi perusahaan yang dianggap “menangguk untung di atas penderitaan perang”.
Di sisi internal, Norwegia juga tidak sepenuhnya aman. Rakyatnya kini harus menghadapi inflasi yang melonjak ke angka 3,6%, dipicu oleh biaya bahan bakar bulanan yang mencetak rekor kenaikan 17,9%.
Meski menjadi tumpuan harapan, Norwegia diperkirakan akan segera mencapai titik jenuh. Ladang minyak raksasa Johan Sverdrup—tulang punggung pasokan Eropa—diprediksi akan mengalami penurunan produksi sebesar 10% hingga 20% pada tahun ini. Jika konflik Iran terus berlarut, Eropa mungkin akan dipaksa menghadapi kenyataan pahit: mencari pasokan di luar Norwegia atau membuka kembali perdebatan pelik soal gas Rusia.