JAKARTA – Paus Leo mengingatkan risiko demokrasi yang meluncur ke dalam “tirani mayoritas” dalam sebuah surat yang dirilis Vatikan, Selasa (14/4/2026).
Peringatan itu muncul dua hari setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyerang sang paus melalui media sosial.
Dalam surat yang ditujukan kepada peserta pertemuan Vatikan mengenai penggunaan kekuasaan dalam masyarakat demokratis, Paus asal Amerika Serikat pertama itu menegaskan bahwa demokrasi hanya akan tetap sehat jika berakar pada nilai-nilai moral.
“Tanpa fondasi ini, (demokrasi) berisiko menjadi tirani mayoritas atau sekadar kedok bagi dominasi elit ekonomi dan teknologi,” tulis Leo, dilansir Reuters, Rabu (15/4/26).
Teks surat yang dirilis saat Paus Leo menjalani tur 10 hari ke empat negara Afrika itu tidak secara langsung menyebut Amerika Serikat maupun negara demokrasi tertentu.
Trump sebelumnya melontarkan kritik tajam dengan menyebut Leo sebagai “mengerikan” pada Minggu malam, setelah paus semakin vokal menentang perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran. Kepada Reuters, Leo menegaskan akan terus mengkritik perang tersebut meski mendapat komentar keras dari Trump.
Dalam suratnya, Paus Leo menekankan bahwa Gereja Katolik mengajarkan kekuasaan tidak boleh dipandang sebagai tujuan, “melainkan sebagai sarana yang diarahkan untuk kebaikan bersama.”
“Hal ini berarti bahwa legitimasi otoritas tidak bergantung pada akumulasi kekuatan ekonomi atau teknologi, melainkan pada kebijaksanaan dan kebajikan dengan mana kekuasaan tersebut dijalankan,” ujarnya.
Ia juga mendesak para pemimpin demokratis untuk menghindari godaan menimbun kekuasaan. “Kesederhanaan (temperance) … sangat penting bagi penggunaan otoritas yang sah, karena kesederhanaan sejati menahan ambisi diri yang berlebihan dan berfungsi sebagai pagar pengaman terhadap penyalahgunaan kekuasaan,” kata Leo.