Maskapai nasional Kanada, Air Canada, resmi mengumumkan perombakan kursi kepemimpinan tertinggi mereka pada Rabu (8/7/2026). Langkah krusial ini diambil bukan karena rapor merah performa keuangan, melainkan akibat isu sensitif seputar kemampuan berbahasa Prancis yang memicu polemik nasional berkepanjangan di Kanada.
Anko van der Werff ditunjuk sebagai Chief Executive Officer (CEO) baru untuk menggantikan Michael Rousseau. Van der Werff—pria berkebangsaan Belanda yang saat ini masih memimpin Scandinavian Airlines—dijadwalkan akan resmi menduduki kursi nomor satu Air Canada pada akhir Januari 2027.
Sesaat setelah pengumuman tersebut, pihak maskapai langsung merilis video perkenalan yang menampilkan Van der Werff berbicara lancar dalam bahasa Inggris dan Prancis.
“Saya sangat menyadari betapa pentingnya melayani warga Kanada dalam kedua bahasa resmi negara ini,” tegas Van der Werff.
Kronologi Lengsernya Michael Rousseau
Mundurnya Michael Rousseau setelah menjabat selama lima tahun dipicu oleh akumulasi kemarahan publik. Klimaks dari desakan mundur itu terjadi pasca-insiden kecelakaan fatal armada Air Canada Express di Bandara LaGuardia, New York, pada 22 Maret 2026, yang merenggut nyawa dua pilotnya.
Beberapa poin penting yang melatarbelakangi kejatuhan Rousseau antara lain:
-
Pidato Satu Bahasa: Pasca-kecelakaan yang menewaskan kopilot Antoine Forest (warga Quebec penutur bahasa Prancis), Rousseau menyampaikan pidato belasungkawa hanya dalam bahasa Inggris.
-
Ketidakmampuan Berbahasa Prancis: Meskipun Rousseau berulang kali berjanji akan belajar, manajemen menilai tingkat kemahiran bahasanya tidak cukup memadai untuk menyampaikan pesan-pesan sensitif yang krusial di saat krisis.
-
Aturan Ketat Federal: Sebagai mantan BUMN yang kini diprivatisasi, Air Canada terikat undang-undang bilingualisme federal Kanada yang sangat ketat dibanding maskapai swasta lainnya.
Sosok Multibahasa yang Diuji Publik
Untuk memulihkan citra perusahaan, komite seleksi Air Canada melakukan pencarian global dengan kriteria yang sangat spesifik. Pilihan akhirnya jatuh pada Van der Werff yang dikenal sebagai seorang poliglot. Ia tercatat menguasai bahasa Belanda, Inggris, dan Prancis secara aktif, serta memiliki pemahaman baik dalam bahasa Spanyol, Italia, dan Swedia.
Langkah akomodatif ini disambut hangat oleh Menteri Bahasa Prancis Quebec, Jean-François Roberge. Namun, ia mengingatkan tantangan nyata yang harus dihadapi bos baru tersebut.
“Kepala Air Canada harus menunjukkan kemahiran berbahasa Prancis sebagai bahasa resmi kami di Quebec. Namun, di luar itu, tanggung jawab utamanya adalah memastikan akses ke layanan berbahasa Prancis yang setara di seluruh negeri,” tegas Roberge.
PR Besar Menanti: Revitalisasi Layanan Pelanggan
Tantangan serupa juga disuarakan oleh John Gradek, pengamat penerbangan sekaligus dosen manajemen penerbangan di McGill University. Menurutnya, publik ingin melihat pembuktian langsung dari Van der Werff di dunia nyata.
“Saya ingin melihatnya langsung berbicara dalam konferensi pers dengan media lokal berbahasa Prancis, atau saat berhadapan dengan komite parlemen dari blok Quebecois,” tantang Gradek.
Meskipun isu bahasa menjadi magnet perhatian publik, Gradek mengingatkan bahwa Van der Werff tidak boleh melupakan esensi bisnis penerbangan. Pekerjaan rumah (PR) terbesar yang menanti sang CEO baru di lapangan adalah membenahi sektor operasional, meremajakan armada pesawat yang mulai menua, serta melakukan revitalisasi menyeluruh pada sistem layanan konsumen Air Canada.