JAKARTA – Gelombang tekanan politik yang dipimpin Presiden Donald Trump kembali mengguncang dunia media dan hiburan Amerika Serikat. Dalam langkah terbaru, acara talk show populer Jimmy Kimmel Live! ditarik secara mendadak oleh stasiun televisi ABC setelah mendapat tekanan dari Ketua Federal Communications Commission (FCC), Brendan Carr, yang diangkat langsung oleh Trump. Penghentian ini dipicu oleh pernyataan kontroversial Kimmel mengenai pembunuh aktivis konservatif Charlie Kirk, yang dianggap menyesatkan oleh Carr. Ancaman untuk mencabut lisensi penyiaran stasiun-stasiun yang dianggap menyebarkan “sampah” pun menggema, memicu ketakutan akan penyensoran dan ancaman terhadap kebebasan berbicara di AS.
Langkah ini bukanlah yang pertama. Trump, yang kerap menuding media besar bias terhadapnya, tampaknya semakin mahir menggunakan kekuatan politik dan hukum untuk membungkam kritik. Selain ABC, CBS, The Washington Post, dan Los Angeles Times juga mulai menunjukkan perubahan editorial yang lebih lunak terhadap Trump pasca-kemenangannya kembali dalam pemilu. “Ada kecenderungan kuat ke arah kanan di media utama AS saat ini,” ujar Victor Pickard, profesor kebijakan media dari Universitas Pennsylvania, dilansir dari Reuters, Minggu (21/9/2025). “Tanpa kekuatan penyeimbang, tren ini akan terus berlanjut.”
Pada ranah digital, tekanan serupa juga terasa. Oracle, perusahaan milik miliarder pendukung Trump, Larry Ellison, kini berada di jalur untuk mengakuisisi operasi TikTok di AS melalui konsorsium investor, menyusul kesepakatan dengan pemerintah China. Sementara itu, platform X (sebelumnya Twitter) yang kini dimiliki Elon Musk telah bergeser ke arah konten yang lebih condong ke kanan sejak diakuisisi pada 2022. Meta Platforms, induk Facebook dan Instagram, bahkan membubarkan program pengecekan fakta pihak ketiga dan menunjuk eksekutif Republik, Joel Kaplan, sebagai kepala urusan global.
Pertarungan Hukum dan Tekanan Korporasi
Trump juga tak ragu menggunakan jalur hukum untuk menyerang media. Sejak 2020, ia telah mengajukan sembilan gugatan perdata terhadap media, termasuk gugatan senilai $15 miliar terhadap The New York Times dan $10 miliar terhadap The Wall Street Journal. Meski hakim federal baru-baru ini menolak gugatan terhadap The New York Times, Trump diberi waktu 28 hari untuk mengajukan perbaikan. “Gugatan ini tidak memiliki dasar hukum yang kuat dan jelas bertujuan untuk membungkam laporan independen,” kata The New York Times dalam pernyataannya.
Sementara itu, ABC tampaknya berusaha meredam badai media sosial atas komentar Kimmel. Namun, tekanan dari FCC dan pemilik stasiun lokal seperti Nexstar Media Group, yang sedang menanti persetujuan FCC untuk akuisisi Tegna senilai $6,2 miliar, membuat situasi semakin rumit. Nexstar memutuskan untuk menghentikan penayangan Jimmy Kimmel Live! di pasar mereka, diikuti oleh Sinclair, yang bahkan menayangkan acara khusus tentang Charlie Kirk sebagai pengganti slot Kimmel.
Ancaman terhadap Kebebasan Berbicara
Para pakar kebebasan berbicara menilai tindakan ini sebagai upaya sistematis untuk menekan kebebasan pers. Jameel Jaffer, direktur eksekutif Knight First Amendment Institute di Universitas Columbia, menyebut pemerintahan Trump semakin berani menyalahgunakan kekuasaan untuk membungkam kritik. Bahkan di kalangan konservatif, ada kekhawatiran. David Inserra dari Cato Institute menegaskan, “Pemerintahan Trump kini menggunakan argumen yang sama yang pernah mereka kritik saat pemerintahan Biden menargetkan kebebasan berbicara.”
Di tengah ketegangan ini, Gedung Putih bersikukuh bahwa penghentian acara Kimmel bukanlah soal kebebasan berbicara, melainkan masalah “produk yang tidak populer.” Juru bicara Gedung Putih, Abigail Jackson, menyindir, “Jimmy Kimmel bebas membuat lelucon buruk, tapi perusahaan swasta tidak wajib rugi untuk menayangkan acara yang tidak disukai.”
Namun, bagi banyak pihak, langkah-langkah ini menandakan era baru di mana tekanan politik, ancaman regulasi, dan kekuatan korporasi bergabung untuk membentuk narasi publik. Dengan media dan platform digital semakin tunduk pada tekanan, pertanyaan besar kini mengemuka: sejauh mana kebebasan berbicara masih bisa bertahan di Amerika Serikat?