JAKARTA β Thomas Tuchel dinilai sebagai kandidat paling ideal untuk menjadi manajer permanen Manchester United, meski fokus utamanya saat ini masih tertuju pada misi membawa Timnas Inggris tampil maksimal di Piala Dunia.
Hal tersebut seperti diungkapkan pengamat bola, John Cross dalam opininya di Mirror, Rabu (7/1/2026)
Pelatih asal Jerman itu disebut bahagia memimpin Inggris menuju turnamen akbar, namun dalam waktu bersamaan dianggap sebagai sosok paling siap untuk menjadi penerus jangka panjang Ruben Amorim di Old Trafford.
Situasi ini jelas berpotensi menjadi gangguan bagi Federasi Sepak Bola Inggris (FA) yang merekrut Tuchel dengan target utama menjuarai Piala Dunia, sehingga spekulasi soal Manchester United diyakini tidak akan disambut hangat.
Meski demikian, perhatian publik terhadap isu tersebut diperkirakan masih minim hingga Inggris kembali berlaga pada Maret, sehingga tekanan media terhadap Tuchel relatif dapat diredam.
Dari sudut pandang Manchester United, Tuchel memenuhi kriteria utama klub yang kini menginginkan manajer dengan pengalaman Liga Inggris, sebuah pelajaran penting dari era Ruben Amorim.
Tuchel dikenal sebagai pelatih berkelas dunia dengan reputasi kuat, rekam jejak prestasi mentereng, serta jam terbang tinggi menangani klub-klub elite Eropa.
Ia sukses mempersembahkan gelar Liga Champions untuk Chelsea serta pernah menangani Bayern Munchen dan Paris Saint-Germain, membuat kualitas CV-nya sulit diperdebatkan.
Perbandingan pun muncul dengan Oliver Glasner yang tengah bersinar bersama Crystal Palace usai membawa klub itu meraih trofi besar pertama mereka lewat Piala FA.
Namun, tantangan menangani Crystal Palace dinilai sangat berbeda dengan tekanan dan kompleksitas Manchester United, termasuk kemampuan mengelola hierarki internal dan ekspektasi besar.
Glasner memang berpotensi sukses, tetapi United kembali dihadapkan pada risiko ketidakpastian, sementara Tuchel menawarkan jaminan pengalaman dan stabilitas.
Saat ini, Manchester United memilih jalan aman dengan menunjuk manajer sementara hingga akhir musim, termasuk Darren Fletcher yang memimpin laga melawan Burnley.
Wacana kembalinya Ole Gunnar Solskjaer hingga akhir musim bahkan dinilai sebagai langkah mundur yang terasa janggal dan bernuansa nostalgia berlebihan.***
