Di tengah lonjakan harga telur yang melanda berbagai negara, Indonesia justru berada dalam kondisi yang stabil dan menguntungkan. Kementerian Pertanian mencatat, produksi telur nasional tahun 2025 tidak hanya mencukupi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga mengalami surplus signifikan.
Potensi produksi telur nasional tahun ini mencapai 6,5 juta ton, sementara kebutuhan domestik hanya sekitar 6,2 juta ton. Dengan demikian, terdapat potensi surplus sebanyak 288,7 ribu ton yang membuka peluang ekspor ke pasar internasional.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menyampaikan bahwa kondisi ini merupakan momentum yang baik bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor telur ayam konsumsi, khususnya ke negara-negara yang tengah mengalami gangguan produksi akibat wabah Highly Pathogenic Avian Influenza atau HPAI, seperti Amerika Serikat dan negara lainnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, turut menegaskan bahwa potensi ekspor telur dari Indonesia sangat besar, seiring dengan meningkatnya permintaan global dan kemampuan produksi dalam negeri yang terus tumbuh.
Dengan surplus yang dimiliki serta harga telur yang tetap stabil, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperluas pangsa pasar global, sekaligus mendorong pengembangan industri berbasis telur dengan nilai tambah tinggi di dalam negeri
