JAKARTA – Pembangunan kembali Jembatan Kemang Pratama di Kota Bekasi, Jawa Barat, menunjukkan kemajuan signifikan. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mencatat progres pekerjaan telah mencapai lebih dari 92 persen, melampaui target yang ditetapkan. Infrastruktur vital yang sempat rusak akibat banjir pada Maret 2025 itu ditargetkan rampung pada Agustus 2026 dan segera mengembalikan kelancaran mobilitas warga serta aktivitas ekonomi di kawasan Bekasi Selatan dan sekitarnya.
Percepatan pembangunan jembatan tersebut menjadi salah satu langkah strategis pemerintah untuk memulihkan konektivitas kawasan perkotaan yang terdampak kerusakan infrastruktur akibat bencana hidrometeorologi. Selain menghubungkan kawasan permukiman padat penduduk, Jembatan Kemang Pratama juga berperan penting sebagai akses penghubung menuju ruas Tol Bekasi Barat dan Tol Jatiasih yang menjadi jalur utama mobilitas komuter dan distribusi logistik.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan bahwa pembangunan kembali Jembatan Kemang Pratama merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam menjaga konektivitas masyarakat dan mendukung kelancaran aktivitas ekonomi.
“Jembatan ini dibangun untuk memangkas waktu tempuh, menurunkan biaya operasional kendaraan, serta meningkatkan keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan. Manfaatnya harus dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” kata Dody.
Rusak Akibat Banjir, Pemerintah Pusat Turun Tangan
Jembatan Kemang Pratama sebelumnya mengalami kerusakan serius pada bagian abutmen setelah tergerus derasnya aliran air saat curah hujan ekstrem melanda wilayah Bekasi pada Maret 2025. Kerusakan tersebut mengganggu arus lalu lintas di sejumlah kawasan strategis, termasuk akses menuju permukiman warga, pusat kegiatan ekonomi, hingga jalur menuju jalan tol.
Meski secara administratif jembatan tersebut berada dalam pengelolaan Pemerintah Kota Bekasi, pemerintah pusat melalui Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) DKI Jakarta–Jawa Barat mengambil alih penanganan pembangunan guna mempercepat pemulihan infrastruktur yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
Langkah intervensi pemerintah pusat dinilai penting mengingat posisi Jembatan Kemang Pratama yang menjadi salah satu urat nadi transportasi di wilayah Bekasi Selatan. Keberadaannya tidak hanya menunjang mobilitas harian warga, tetapi juga mempercepat pergerakan barang dan jasa yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi kawasan.
Konstruksi Modern untuk Ketahanan Jangka Panjang
Dalam proses pembangunan kembali, Kementerian PU menerapkan desain konstruksi yang lebih kuat dan adaptif terhadap beban lalu lintas perkotaan yang tinggi.
Bentang utama jembatan dibangun menggunakan struktur steel box girder sepanjang 78 meter. Sementara struktur bawah memanfaatkan pondasi borepile berdiameter 80 sentimeter dengan beton struktur FC’30 untuk meningkatkan stabilitas dan daya tahan konstruksi.
Secara keseluruhan, proyek ini mencakup penanganan sepanjang 410 meter dengan lebar jembatan mencapai 7 meter. Selain pembangunan bentang utama, pekerjaan juga meliputi pembangunan oprit pada kedua sisi jembatan, yakni Oprit A1 sepanjang 20 meter dan Oprit A2 sepanjang 230 meter.
Tahapan penting berupa pemasangan atau erection steel box girder telah diselesaikan. Saat ini pekerjaan memasuki fase akhir yang berfokus pada penyempurnaan infrastruktur pendukung.
Pekerjaan yang masih berlangsung antara lain penyelesaian rigid pavement pada area oprit dan jalan pendekat di luar bentang utama, serta pengerjaan lapis aspal pada badan jembatan.
Lebih Cepat dari Target
Data Kementerian PU per 28 Mei 2026 menunjukkan progres pembangunan berada di atas rencana yang telah ditetapkan.
Untuk pekerjaan dalam skema Multi Years Contract (MYC), capaian fisik telah menyentuh 92,91 persen. Angka tersebut melampaui target progres sebesar 85,96 persen atau mencatat deviasi positif 6,95 persen.
Sementara untuk pelaksanaan tahun anggaran 2026, progres pekerjaan mencapai 92,06 persen, lebih tinggi dibanding target 84,06 persen. Dengan demikian terdapat deviasi positif sebesar 7,97 persen.
Capaian tersebut menunjukkan pembangunan berjalan lebih cepat dari jadwal yang direncanakan sehingga membuka peluang penyelesaian proyek tepat waktu sesuai target Agustus 2026.
Diharapkan Dongkrak Aktivitas Ekonomi Bekasi
Keberadaan Jembatan Kemang Pratama memiliki nilai strategis bagi perekonomian wilayah Bekasi. Infrastruktur ini menjadi jalur penghubung penting antara kawasan hunian, pusat perdagangan, area jasa, dan jaringan jalan tol yang menopang aktivitas komuter menuju Jakarta maupun daerah penyangga lainnya.
Dengan kembali beroperasinya jembatan tersebut, masyarakat diharapkan dapat menikmati waktu perjalanan yang lebih singkat, biaya transportasi yang lebih efisien, serta akses yang lebih mudah menuju pusat-pusat kegiatan ekonomi.
Peningkatan konektivitas juga diyakini akan mendukung kelancaran distribusi logistik dan memperkuat daya saing kawasan Bekasi sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di wilayah metropolitan Jabodetabek.
Rekayasa Lalu Lintas Terus Diterapkan
Di tengah proses konstruksi yang berlangsung di kawasan perkotaan dengan tingkat kepadatan tinggi, BBPJN DKI Jakarta–Jawa Barat terus berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Bekasi, Dinas Perhubungan, Kepolisian, dan masyarakat setempat untuk menjaga kelancaran arus kendaraan.
Sejumlah rekayasa lalu lintas masih diterapkan selama masa pembangunan. Pengalihan arus dilakukan dari arah Jatiasih dan Galaxy menuju Kemang Pratama melalui Jalan Ki Ijon Bin Beih menuju Simpang PPI.
Selain itu, akses keluar-masuk Perumahan Kemang Pratama diarahkan melalui Gerbang Kemang Pratama 3 di Jalan Siliwangi. Sementara kendaraan dari arah Pekayon menuju Galaxy maupun Jatiasih dialihkan melalui Bundaran Kemang Pratama guna mengurangi potensi kemacetan di sekitar lokasi proyek.
Melalui percepatan pembangunan yang kini telah memasuki tahap akhir, pemerintah berharap Jembatan Kemang Pratama dapat segera kembali berfungsi penuh sebagai jalur penghubung utama masyarakat Bekasi sekaligus menjadi penggerak aktivitas ekonomi kawasan yang sempat terganggu akibat bencana banjir.