JAKARTA – Menjelang puncak arus mudik Lebaran 2025, Stasiun Gambir mencatat keberangkatan lebih dari 217.000 penumpang sejak 21 Maret hingga 11 April 2025.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa jumlah pemudik yang berangkat dari stasiun ini terus mengalami lonjakan signifikan seiring meningkatnya mobilitas masyarakat menjelang Hari Raya Idulfitri.
“Stasiun Gambir ini merupakan stasiun kedua terpadat setelah Stasiun Pasar Senen. Hingga 29 Maret 2025 sudah diberangkatkan sekitar 217 ribu penumpang,” kata Dudy Purwagandhi dalam keterangan pers di Jakarta, Minggu (30/3/2025).
Lonjakan pemudik ini dipengaruhi oleh tingginya minat masyarakat dalam menggunakan moda transportasi kereta api sebagai pilihan utama mudik.
Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, destinasi favorit pemudik dari Stasiun Gambir adalah Yogyakarta dengan 34.036 penumpang, diikuti oleh Semarang sebanyak 29.517 orang, dan Bandung dengan 23.143 penumpang.
Kota-kota tersebut menjadi tujuan utama karena memiliki banyak perantau yang bekerja di Jakarta dan sekitarnya.
Peningkatan Layanan dan Fasilitas di Stasiun Gambir
Untuk mengakomodasi tingginya permintaan perjalanan, PT Kereta Api Indonesia (KAI) telah menyiapkan berbagai strategi, termasuk peningkatan jumlah perjalanan dan optimalisasi pelayanan di stasiun.
Secara keseluruhan, terdapat 990 perjalanan kereta api yang diberangkatkan dari Stasiun Gambir dengan total kapasitas mencapai 467.800 tempat duduk.
Hingga saat ini, sebanyak 266.705 tiket telah terjual, mencatatkan tingkat okupansi sebesar 57 persen.
Selain itu, Stasiun Gambir juga telah meningkatkan fasilitas layanan bagi penumpang, termasuk penyediaan ruang tunggu yang lebih nyaman, sistem boarding otomatis, serta pengamanan yang diperketat untuk mengantisipasi lonjakan penumpang.
Petugas stasiun juga dikerahkan untuk membantu pemudik, terutama lansia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas.
Dampak Kebijakan WFA
Menhub juga menyoroti dampak positif kebijakan work from anywhere terhadap kelancaran arus mudik tahun ini.
Dengan fleksibilitas waktu kerja yang diterapkan oleh sejumlah perusahaan dan instansi, pola perjalanan pemudik menjadi lebih tersebar, sehingga tidak terjadi lonjakan ekstrem pada puncak arus mudik.
“(Arus mudik) H-10 diperkirakan konstan (jumlah penumpang), sehingga pada saat peak (puncak arus mudik), itu juga tidak terlalu peak,” ungkap Dudy.
Selain itu, faktor peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kenyamanan dan keamanan perjalanan juga menjadi salah satu alasan pemudik memilih kereta api dibandingkan moda transportasi lain.
Kereta api dianggap sebagai opsi yang lebih efisien, nyaman, dan minim risiko dibandingkan transportasi darat lainnya.
Antisipasi
Untuk menghindari kepadatan di stasiun, pemerintah dan PT KAI mengimbau para pemudik agar merencanakan perjalanan mereka dengan baik.
Pemudik disarankan untuk datang lebih awal ke stasiun guna menghindari antrean panjang saat pemeriksaan tiket dan barang bawaan.
Selain itu, penumpang juga diingatkan untuk selalu mematuhi aturan yang berlaku, termasuk membawa tiket sesuai identitas yang sah dan mengikuti protokol keselamatan selama perjalanan.
PT KAI juga terus mengawasi kepatuhan terhadap aturan bagasi, agar kenyamanan semua penumpang tetap terjaga.***
