JAKARTA – PT Rekayasa Industri (Rekind) memposisikan diri di barisan terdepan dalam upaya dekarbonisasi, khususnya pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara. Anak Perusahaan PT Pupuk Indonesia (Persero) itu sudah menyiapkan langkah konkret yang akan diwujudkan melalui pengembangan solusi Carbon Capture & Storage (CCS).
Salah satu terobosan yang diusung melalui teknologi Rotating Packed Beds (RPB). Teknologi ini dirancang untuk menangkap karbon dari gas buang secara lebih efisien (di mana pemulihan dari emisi CO2 di atas 90%, desain alatnya sangat kompak, dan kebutuhan energinya rendah), dengan biaya yang lebih kompetitif dibandingkan solusi sejenis.
Kehadiran RPB menjadi angin segar bagi percepatan dekarbonisasi, khususnya di sektor energi dan industri berat yang selama ini sulit dilepaskan dari emisi tinggi. Lebih dari itu, teknologi ini membuka peluang nyata bagi Indonesia untuk mengadopsi solusi rendah emisi yang lebih efektif dan aplikatif.
Dengan pengalaman lebih dari empat dekade di sektor EPC (Engineering, Procurement & Construction), Rekind menegaskan kesiapan teknis dan kapabilitas proyeknya untuk mendukung implementasi CCS di PLTU.
“Upaya menekan emisi dari batu bara kini tidak lagi berhenti pada wacana, tetapi mulai bergerak ke arah implementasi nyata, satu di antaranya melalui peran aktif Rekind. Kami percaya CCS bukan hanya solusi teknologi, tetapi juga peluang bisnis masa depan. Rekind telah memposisikan diri lebih awal, sehingga ketika pasar terbentuk, kami siap menjadi yang terdepan,” ujar Direktur Utama Rekind Triyani Utaminingsih.
Menurut wanita yang akrab disapa Yani ini, mayoritas potensi implementasi CCS di Indonesia berasal dari pembangkit listrik berbahan bakar batu bara. Mengingat dominasi batu bara dalam bauran energi nasional, penggantian pembangkit secara total ke energi terbarukan seperti tenaga surya masih menjadi tantangan besar. “Oleh karena itu, CCS hadir sebagai solusi realistis untuk menekan emisi tanpa menghentikan operasional pembangkit,” tambahnya.
Dari sisi keekonomian, Rekind melihat prospek CCS semakin menjanjikan. Perusahaan telah menghitung biaya produksinya. Bahkan, diprediksi harga karbon di pasar internasional, khususnya di Eropa terus meningkat setiap tahunnya.
Sebagai kontraktor EPC, Rekind mengambil peran strategis dalam integrasi teknologi CCS ke dalam berbagai sektor industri. Untuk aspek teknologi, Rekind mengadopsi pendekatan terbuka dengan menggandeng berbagai penyedia lisensi teknologi global sesuai kebutuhan klien dan karakteristik industri. Satu di antaranya, Rekind menjalin kolaborasi strategis dengan Carbon Clean, perusahaan global yang dikenal sebagai pemain utama dalam teknologi penangkapan karbon dioksida (CO₂).
Menurut Yani, selain dengan Carbon Clean Rekind juga menjalin kerjasama dengan AES untuk solusi dekarbonisasi limbah biomassa. Kerjasama dengan AES juga diarahkan untuk menekan karbon dengan mengimplementasikan teknologi Pirolisis Biomassa. Teknologi ini mampu memisahkan karbon dioksida dan hidrogen melalui bahan organik, seperti limbah pertanian, kayu, serbuk gergaji, cangkang sawit, atau residu tanaman, melalui pemanasan pada suhu tinggi tanpa kehadiran oksigen.