JAKARTA – Sebuah api unggun loyalis di Moygashel, County Tyrone, Irlandia Utara, memicu kontroversi setelah menampilkan replika masjid di atas menara palet yang akan dibakar pada Jumat malam. Plakat di bawahnya bertuliskan “amankan perbatasan kita” dan “akhiri ancaman Islam radikal.”
Amnesty International mengecam keras aksi tersebut. “Aksi menjijikkan ini adalah upaya terang-terangan untuk membangkitkan kebencian anti-Muslim dan mengintimidasi keluarga-keluarga setempat,” kata Patrick Corrigan, direktur Amnesty International untuk Irlandia Utara, seraya mendesak polisi menyelidiki sebagai tindak pidana.
Polisi mengonfirmasi telah menahan seorang pria berusia 56 tahun atas dugaan menampilkan materi yang menghasut kebencian. Insiden ini terjadi hanya beberapa minggu setelah kerusuhan rasial di Belfast menyusul kasus penyerangan pisau oleh seorang pria Sudan.
Asosiasi Api Unggun Moygashel menyebut aksi mereka sebagai “protes politik” terhadap imigrasi ilegal dan kebijakan deportasi. Mereka mengklaim itu bagian dari hak kebebasan berekspresi berdasarkan Konvensi Hak Asasi Manusia Eropa. Tahun lalu, asosiasi yang sama membakar patung tiruan berupa manekin berkulit gelap dengan jaket pelampung di atas perahu.
Politisi lokal mengecam keras aksi tersebut. Anggota parlemen Sinn Féin, Colm Gildernew, menyebutnya sebagai kejahatan kebencian. Eddie Roofe dari Alliance menilai aksi itu bertujuan menebar ketakutan. Sementara kelompok Faith Matters menyebut pembakaran replika masjid sebagai “pesan berbahaya” bagi komunitas Muslim.
Api unggun Moygashel merupakan bagian dari sekitar 300 api unggun loyalis yang dinyalakan setiap tahun untuk memperingati kemenangan Raja William III atas pasukan Katolik dalam Pertempuran Boyne 1690. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, tema anti-imigran semakin sering muncul dalam perayaan tersebut.