JAKARTA – Ribuan warga Israel turun ke jalan di Tel Aviv, mendesak kemerdekaan Palestina dan penghentian perang di Gaza. Aksi demonstrasi ini mencerminkan perpecahan internal di Israel terkait konflik yang telah menewaskan puluhan ribu orang.
Demonstrasi berlangsung di pusat kota Tel Aviv pada akhir pekan lalu, di mana peserta mengibarkan bendera Palestina dan membentangkan spanduk bertuliskan slogan-slogan damai. Menurut laporan dari lapangan, sekitar 5.000 hingga 7.000 orang hadir, termasuk aktivis hak asasi manusia, mahasiswa, dan keluarga korban perang. Mereka menyerukan pemerintah Israel untuk menghentikan operasi militer di Gaza dan memulai dialog damai menuju solusi dua negara.
Acara ini dipicu oleh eskalasi kekerasan di Gaza sejak Oktober 2023, di mana serangan Hamas diikuti oleh respons militer Israel yang masif. Hingga kini, korban jiwa di pihak Palestina mencapai lebih dari 40.000 orang, sementara ribuan warga Israel juga menjadi korban. Demonstran menekankan bahwa perang ini tidak hanya menghancurkan Gaza, tetapi juga merusak fondasi moral dan ekonomi Israel.
“Perang ini harus dihentikan sekarang juga. Kami tidak bisa terus membiarkan penderitaan ini berlanjut,” ujar Sarah Cohen, salah seorang koordinator aksi yang juga mantan tentara Israel, dalam pidato pembuka. Cohen menambahkan bahwa dukungan terhadap Palestina bukanlah pengkhianatan, melainkan langkah menuju perdamaian abadi bagi kedua bangsa.
Para peserta juga membagikan kisah pribadi, seperti Yossi Levy, seorang ayah yang kehilangan putranya dalam serangan Hamas. “Saya datang ke sini bukan untuk membenci, tapi untuk membangun masa depan di mana anak-anak kami bisa hidup tanpa ketakutan. Kemerdekaan Palestina adalah kunci untuk keamanan Israel,” katanya dengan suara bergetar, disambut sorak sorai massa.
Aksi ini bukan yang pertama; gelombang protes serupa telah merebak di berbagai kota Israel sejak awal 2024, didukung oleh kelompok seperti “Standing Together” dan “Women Wage Peace”. Namun, demonstrasi kali ini lebih masif, dengan partisipasi lintas generasi yang menunjukkan perubahan sikap publik terhadap kebijakan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Pemerintah Israel belum merespons secara resmi, meski polisi setempat mengerahkan pasukan keamanan untuk menjaga ketertiban. Pengamat internasional menilai aksi ini sebagai sinyal kuat bahwa tekanan domestik bisa memengaruhi dinamika negosiasi dengan mediator seperti Qatar dan Mesir.
Konflik Israel-Palestina terus menjadi isu hangat di panggung dunia, dengan resolusi PBB yang menyerukan gencatan senjata masih mandek. Demonstrasi ini mengingatkan bahwa suara rakyat bisa menjadi katalisator perubahan, terutama di tengah krisis kemanusiaan yang memburuk di Gaza.