JAKARTA – Pertandingan pekan terakhir BRI Super League 2025/26 menjadi momentum krusial bagi PSIM Yogyakarta untuk menutup musim dengan hasil maksimal.
Striker asal Inggris, Deri Corfe, menegaskan kesiapan tim menghadapi Arema FC dalam laga yang digelar di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jumat (22/5) sore.
Pemain bernomor punggung tujuh tersebut menyebut kondisi tim berada dalam situasi positif jelang laga penentuan posisi akhir klasemen.
“Persiapan untuk laga lawan Arema FC bagus. Dan kita akan coba finish dengan hasil sebaik mungkin. Kita akan berjuang untuk bisa masuk 10 besar dengan coba tampil dengan performa terbaik,” kata Deri Corfe seperti dilansir I.League, Jumat.
Ambisi pribadi juga diusung Corfe yang bertekad menambah kontribusi gol demi membantu Laskar Mataram mengamankan kemenangan penting.
Sepanjang musim ini, performa Corfe belum sepenuhnya mencapai ekspektasi sebagai ujung tombak utama PSIM.
Dari total 33 pertandingan tim, ia tampil dalam 29 laga dengan durasi bermain mencapai 1.843 menit.
Kontribusinya sejauh ini tercatat dua gol dan satu assist, angka yang masih di bawah potensi terbaiknya.
Sementara itu, tim besutan Jean Paul Van Gastel masih menjaga optimisme tinggi untuk menutup musim di posisi 10 besar klasemen.
PSIM saat ini berada di peringkat ke-11 dengan koleksi 45 poin dari 33 pertandingan yang telah dijalani.
Jumlah poin tersebut identik dengan Persita Tangerang di posisi ke-10 serta Arema FC di peringkat ke-9.
Situasi ini membuat laga terakhir menjadi penentu mutlak karena hanya kemenangan yang dapat membuka peluang finis di sepuluh besar.
PSIM datang ke Malang dengan bekal tren positif usai meraih dua kemenangan beruntun di kandang.
Kemenangan 2-0 atas Malut United FC dan 2-1 atas Madura United FC menunjukkan peningkatan performa signifikan di fase akhir kompetisi.
Hasil tersebut sekaligus menjadi titik balik setelah sebelumnya PSIM menjalani delapan pertandingan tanpa kemenangan.
Dalam periode tersebut, Laskar Mataram hanya mampu meraih tiga hasil imbang dan menelan lima kekalahan.
Kini, momentum kebangkitan menjadi modal utama untuk menghadapi laga penutup yang sarat tekanan dan harapan.***


