Serangan udara Rusia yang berlangsung berjam-jam menghantam Kyiv pada Sabtu dini hari, menyebabkan lebih dari 320.000 rumah tangga kehilangan listrik serta memutus pasokan pemanas bagi hampir sepertiga wilayah ibu kota Ukraina. Serangan masif tersebut menargetkan infrastruktur energi dengan rentetan rudal dan drone.
Menurut otoritas setempat, serangan dimulai sekitar pukul 01.00 waktu setempat dan berlangsung lebih dari sembilan jam. Akibatnya, seorang perempuan dilaporkan tewas di wilayah Kyiv, sementara setidaknya 19 orang lainnya terluka. Sejumlah bangunan permukiman di tujuh distrik mengalami kerusakan, beberapa di antaranya terbakar, memaksa evakuasi darurat dari asrama mahasiswa dan panti jompo.
Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, menyatakan situasi kian mengkhawatirkan karena suhu udara mendekati titik beku.
“Hampir sepertiga ibu kota kini tanpa pemanas. Sejumlah wilayah di tepi kiri sungai juga mengalami pemadaman listrik,” ujarnya melalui Telegram.
Perusahaan energi swasta terbesar Ukraina, DTEK, memberlakukan pemadaman darurat di seluruh Kyiv dan wilayah sekitarnya sesuai instruksi operator jaringan nasional Ukrenergo.
Serangan Terjadi Jelang Agenda Diplomasi Sensitif
Serangan ini terjadi sehari sebelum Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dijadwalkan bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Florida untuk membahas usulan rencana perdamaian 20 poin. Waktu serangan tersebut dinilai mempertegas pola Rusia yang terus menargetkan infrastruktur sipil di tengah meningkatnya upaya diplomatik untuk mengakhiri perang yang hampir memasuki tahun keempat.
Sepanjang Desember, Rusia tercatat meningkatkan serangan terhadap sistem energi Ukraina. Pada 23 Desember lalu, lebih dari 650 drone dan 38 rudal diluncurkan ke fasilitas energi, menewaskan sedikitnya tiga orang dan memicu pemadaman luas di berbagai wilayah. Hingga Sabtu, sejumlah konsumen di Kyiv, wilayah Kyiv, dan Chernihiv masih dilaporkan tanpa aliran listrik.
Kementerian Energi Ukraina menyatakan tim penyelamat dan teknisi akan mulai melakukan perbaikan segera setelah kondisi keamanan memungkinkan. Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa kembali memperingatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur energi di tengah musim dingin menempatkan jutaan warga sipil dalam risiko serius.
