Ranjang geopolitik Timur Tengah kembali membara hebat. Kali ini, konfrontasi bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran tidak hanya terjadi lewat desingan rudal, melainkan juga lewat perang klaim dan narasi tingkat tinggi antara kedua pemimpin negara.
Dalam wawancara eksklusif bersama Fox News pada Rabu (10/6/2026), Presiden AS Donald Trump secara sepihak mengklaim bahwa para pejabat tinggi Iran telah menghubungi dirinya secara langsung. Trump menyebut Teheran “mengemis” agar AS menghentikan hujan bom yang sedang berlangsung.
“Pihak Iran meminta saya untuk menghentikan pengeboman, dan serangan akan segera berakhir,” klaim Trump percaya diri di depan layar kaca.
Tamparan Balik Iran: “Sepenuhnya Bohong!”
Tidak butuh waktu lama bagi Teheran untuk melayangkan tamparan balik. Melalui stasiun penyiaran pemerintah IRIB, seorang pejabat senior Iran langsung membantah keras ucapan Trump dan melabelinya sebagai pernyataan yang “sepenuhnya bohong”.
Pihak Iran menilai klaim sepihak Trump hanyalah taktik murahan untuk memberikan “perlindungan politis” (political cover) bagi publik AS, guna menutupi fakta bahwa militer Washington sebenarnya sedang ketakutan dan ingin mundur dari konfrontasi langsung.
Bantahan keras ini memperpanjang daftar panjang penolakan Iran terhadap klaim diplomasi di bawah meja versi Trump. Sebelumnya, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, juga telah menegaskan bahwa bualan Trump soal adanya dialog sepanjang konflik hanyalah “berita bohong” (fake news) yang sengaja dirancang demi memanipulasi pasar global dan mencari celah meloloskan diri dari situasi sulit.
Kronologi Eskalasi: Saling Balas di 21 Titik Militer
Ketegangan politik ini dipicu oleh episode pertempuran fisik paling intens sejak gencatan senjata April lalu roboh. Berikut adalah linimasa serangan mematikan kedua belah pihak:
-
Selasa: Iran berhasil menembak jatuh helikopter serang Apache milik AS di dekat Selat Hormuz yang strategis.
-
Respons AS: Berang atas jatuhnya heli tersebut, Trump memerintahkan jet tempur AS menggempur hampir 20 target militer di dalam wilayah Iran, termasuk menghancurkan stasiun radar dan sistem pertahanan udara di Pulau Qeshm, Sirik, dan Bandar Abbas.
-
Pembalasan Iran: Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) membalas dengan meluncurkan gelombang drone dan rudal secara masif ke pangkalan militer AS di Yordania, Bahrain, dan Kuwait. Total ada 21 lokasi yang dibidik, termasuk hanggar jet tempur siluman F-35 di pangkalan Al-Azraq (Yordania) serta Markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain.
Meskipun sebagian besar rudal dan drone Iran berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara, laporan dari Reuters menyatakan belum ada korban jiwa dari pihak militer AS. Menolak mengendurkan tekanan, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan bahwa mereka telah memulai babak kedua gempuran udara ke sejumlah target baru di Iran atas perintah langsung dari Trump.
Rebutan Selat Hormuz & Tekanan Nuklir Baru
Di luar pertempuran udara, Selat Hormuz—jalur urat nadi yang dilewati seperlima pasokan minyak dunia—tetap menjadi pusat rebutan yang mencekam sejak konflik pecah akhir Februari lalu.
Trump mengklaim sebuah operasi rahasia militer AS telah sukses mengawal kapal-kapal pembawa 100 juta barel minyak menembus blokade Iran. Menteri Pertahanan Pete Hegseth bahkan sesumbar bahwa kapal-kapal tersebut melintas dengan cara yang “tidak akan bisa dihentikan oleh Iran.” Namun, Teheran tetap bersikeras bahwa kapal mana pun yang lewat wajib tunduk pada izin ketat IRGC.
Kondisi Timur Tengah kian terjepit ke sudut krusial setelah Dewan Gubernur Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) mengesahkan resolusi yang mendesak Iran untuk segera membuka data stok uranium yang diperkaya mereka. Langkah IAEA ini semakin memperberat sanksi global di tengah kebuntuan diplomasi konflik empat bulan yang tak kunjung menemui titik terang.