TEHERAN, IRAN — Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memasuki fase paling berbahaya setelah serangan udara Washington menewaskan sedikitnya empat orang di Sirik, Iran, termasuk seorang anak berusia empat tahun. Teheran kemudian merespons dengan meluncurkan rudal balistik ke sejumlah sasaran yang terkait dengan keberadaan militer AS di kawasan.
Serangan AS pada Selasa (1/9/2026) menghantam sejumlah wilayah di Iran bagian selatan. Salah satu lokasi yang terdampak berada di Sirik, tempat sebuah pesta pernikahan berlangsung. Serpihan proyektil disebut menghantam kawasan tersebut hingga menyebabkan korban jiwa dan puluhan orang mengalami luka-luka.
Bulan Sabit Merah Iran mencatat sedikitnya empat orang meninggal dunia dan lebih dari 50 lainnya terluka akibat serangan tersebut. Seorang anak berusia empat tahun termasuk dalam korban tewas.
Dampak serangan tidak hanya dirasakan di Sirik. Ledakan dan proyektil juga dilaporkan mengenai sejumlah wilayah lain, termasuk Chabahar, Konarak, Bandara Jiroft, Pulau Qeshm, dan Bandar Abbas.
Komando Pusat AS atau Central Command (Centcom) menyatakan operasi militer tersebut dilakukan terhadap sejumlah sasaran milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Serangan dimulai sekitar pukul 12.00 waktu setempat dan berlangsung hingga Rabu (2/9/2026) dini hari.
Washington menyebut operasi tersebut sebagai respons terhadap tindakan IRGC yang dinilai mengancam keamanan pelayaran dan menyerang kapal-kapal komersial yang melintas di jalur strategis Selat Hormuz.
Namun, serangan yang menimbulkan korban sipil di Sirik segera memicu kemarahan Iran. IRGC mengecam keras operasi militer AS dan memperingatkan Washington mengenai konsekuensi serangan tersebut.
IRGC bahkan menyatakan militer AS akan “menyesali” tindakannya. Ancaman itu kemudian diikuti dengan serangkaian serangan balasan yang menyasar kepentingan militer AS di kawasan.
Mengutip kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, Iran meluncurkan gelombang rudal balistik menjelang Rabu dini hari. Salah satu sasaran yang disebut menjadi target adalah pangkalan Marinir AS di Aqaba, Yordania.
Serangan tersebut membuat otoritas Yordania meningkatkan kewaspadaan. Pusat Keamanan Nasional Yordania mengeluarkan peringatan kepada masyarakat di Kegubernuran Aqaba dan Mafraq agar berlindung dari kemungkinan jatuhnya serpihan akibat intersepsi rudal.
Angkatan Bersenjata Yordania kemudian menyatakan sistem pertahanan udara mereka mencegat 13 rudal balistik Iran. Sebanyak 10 rudal berhasil dihancurkan di udara, sedangkan tiga lainnya jatuh di wilayah terpencil. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan akibat serangan tersebut.
Eskalasi juga menjalar ke kawasan Teluk. Kuwait melaporkan sistem pertahanan udaranya merespons serangan rudal Iran pada Rabu dini hari.
Pada waktu yang hampir bersamaan, sejumlah ledakan mengguncang Bahrain. Serangan tersebut dilaporkan berkaitan dengan upaya Iran menyasar fasilitas militer AS yang berada di negara tersebut.
Dengan meluasnya serangan hingga Yordania, Kuwait, dan Bahrain, konflik AS-Iran tidak lagi terbatas pada wilayah kedua negara. Kawasan yang menjadi jalur strategis perdagangan dan energi dunia itu kembali berada dalam situasi penuh ketegangan.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah memperingatkan Iran agar tidak melakukan serangan balasan. Saat mengumumkan pergerakan pasukan AS pada Selasa sore, Trump mengatakan Washington siap meningkatkan intensitas serangan apabila Teheran mengambil langkah pembalasan.
Trump mengancam AS akan merespons dengan “tingkat yang jauh lebih keras dan lebih hebat” jika Iran menyerang balik.
Peningkatan konflik ini juga menambah tekanan terhadap situasi pelayaran di Selat Hormuz. Iran disebut terus mengejar dan menembaki kapal yang melintas tanpa izin, sementara AS memperketat operasi angkatan laut di sekitar pelabuhan-pelabuhan Iran.
Ketegangan antara kedua negara sebenarnya telah meningkat sejak awal pekan. AS sebelumnya melancarkan serangan udara pertamanya sejak akhir Juli dengan menghancurkan dua peluncur roket Iran yang berada di Pulau Larak.
Iran kemudian merespons dengan meluncurkan rudal ke pangkalan udara di Yordania serta mengerahkan drone tempur menuju Uni Emirat Arab (UEA).
Situasi semakin memburuk setelah serangan terbaru AS menimbulkan korban di Sirik. Lokasi pesta pernikahan yang berubah menjadi tempat tragedi tersebut menjadi salah satu gambaran paling dramatis dari eskalasi konflik yang kini semakin melebar.
Konflik ini juga menunjukkan semakin rapuhnya kesepakatan penghentian permusuhan yang sebelumnya sempat meredakan ketegangan. Nota Kesepahaman (MoU) gencatan senjata yang dicapai pada Juni lalu kini tidak lagi mampu menghentikan rangkaian serangan kedua pihak.
Dengan serangan balasan Iran yang menjangkau sejumlah negara dan meningkatnya aktivitas militer AS di sekitar Iran, ketegangan di Timur Tengah kembali berada pada tingkat yang semakin tinggi.