JAKARTA – Pada perdagangan akhir tahun, Selasa (31/12), mata uang rupiah berhasil ditutup menguat tipis 10 poin setelah sempat mengalami pelemahan 20 poin, menjadi Rp16.132 per dolar Amerika Serikat (AS). Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa penguatan rupiah ini dipengaruhi oleh melemahnya indeks dolar AS.
Menurut Ibrahim, terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS memberikan dorongan bagi mata uang AS. Kebijakan-kebijakan seperti pelonggaran regulasi, pemotongan pajak, kenaikan tarif, dan pengetatan imigrasi dianggap dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan berpotensi meningkatkan inflasi di AS.
“Indeks dolar AS saat ini tengah melemah,” ujar Ibrahim dalam keterangan resminya.
Ibrahim juga mengungkapkan bahwa di bawah kepemimpinan Trump, The Federal Reserve (The Fed) diperkirakan tidak akan cepat memangkas suku bunga pada tahun depan. Bank sentral AS diproyeksikan hanya akan melakukan dua kali pemotongan suku bunga sebesar 25 basis points (bps) pada 2025. Selain itu, penurunan indeks dolar AS juga dipicu oleh rentang perdagangan yang sempit pada pekan ini, seiring dengan liburan akhir tahun.
Faktor lain yang turut memengaruhi adalah perkembangan aktivitas manufaktur Tiongkok yang mengalami kenaikan selama tiga bulan berturut-turut pada bulan Desember, berkat langkah-langkah stimulus baru yang terus memberikan dukungan. Namun, meskipun ada kenaikan, data yang dirilis pada hari Selasa menunjukkan angka yang sedikit lebih rendah dari ekspektasi pasar dan di bawah angka bulan sebelumnya.
Ibrahim menambahkan, “Hal ini menimbulkan kekhawatiran terkait kesehatan industri jangka panjang di Tiongkok, yang tengah menghadapi perlambatan ekonomi dan tekanan di sektor properti.”