JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan penguatan pada perdagangan Senin (29/6/2026) hingga penutupan sesi pertama.
Kurs rupiah bergerak ke level Rp17.860 per dolar AS, meski tekanan dari berbagai faktor eksternal masih membayangi prospek mata uang Garuda dalam jangka pendek.
Berdasarkan data perdagangan Bloomberg, rupiah menguat 62 poin atau 0,35 persen dibandingkan posisi sebelumnya sehingga berada di kisaran Rp17.860 per dolar AS, melanjutkan penguatan di awal perdagangan di level Rp17.871 per dolar AS.
Pergerakan positif tersebut memperpanjang tren penguatan yang telah terlihat pada akhir pekan lalu.
Pada pekan lalu, rupiah berhasil ditutup menguat ke posisi Rp17.922 per dolar AS, meskipun pelaku pasar tetap mencermati perkembangan situasi geopolitik internasional yang dinilai masih berpotensi memicu volatilitas pasar keuangan.
Analis pasar uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai penguatan rupiah saat ini belum sepenuhnya mencerminkan perubahan arah tren karena ketidakpastian global masih cukup tinggi.
“Nilai tukar rupiah diperkirakan akan kembali berbalik melemah terhadap dolar AS,” katanya dikutip dari Katadata, Senin (29/6/2026).
Menurut Lukman, risiko pelemahan kembali muncul seiring meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang dipicu aksi militer Amerika Serikat terhadap Iran sehingga kembali menimbulkan kekhawatiran pelaku pasar global.
Situasi tersebut berkembang setelah Amerika Serikat melancarkan serangan ke Iran yang kemudian dibalas Teheran melalui peluncuran rudal ke sejumlah fasilitas milik Washington di kawasan Teluk.
Di tengah memanasnya konflik, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mengeluarkan ancaman keras dengan menyatakan akan “melenyapkan” Iran sehingga memperbesar kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan.
Serangan militer Amerika Serikat dilakukan setelah insiden penembakan terhadap kapal berbendera Singapura di perairan Oman yang oleh Trump dituding melibatkan militer Iran sebagai alasan dilakukannya operasi militer tersebut.
“Aksi saling serang antara Iran dan AS, kembali memicu ketidakpastian pada prospek perdamaian di kawasan,” ujarnya.
Lukman menilai meningkatnya ketegangan geopolitik juga membuka peluang kenaikan harga minyak mentah dunia yang berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah dan mata uang negara berkembang lainnya.
Untuk perdagangan selanjutnya, ia memperkirakan kurs rupiah akan bergerak pada rentang Rp17.850 hingga Rp18.000 per dolar AS, sementara indeks dolar Amerika Serikat terpantau berada di level 101,36.
Sementara itu, Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, melihat tekanan terhadap rupiah masih belum mereda karena arus modal asing belum menunjukkan perbaikan yang signifikan.
“Level rupiah pada Rp17.900 mencerminkan berlanjutnya tekanan eksternal dan lemahnya aliran dana asing,” ucapnya.
Tim riset Mirae Asset mencatat sepanjang periode Januari hingga Juni 2026 rupiah telah mengalami pelemahan sekitar 7,5 persen terhadap dolar Amerika Serikat sehingga ruang intervensi kebijakan moneter masih terbuka apabila tekanan terus berlanjut.
Rully memperkirakan Bank Indonesia masih berpeluang menaikkan suku bunga acuan apabila pelemahan rupiah berlanjut demi menjaga stabilitas nilai tukar dan mempertahankan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik.***